Oleh: albertmuna | April 25, 2011

penerimaan siswa baru

YAYASAN MITRA KARYA PERSADA
(YAMIKAP)

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
KESEHATAN KARYA PERSADA MUNA

IZIN OPERASIONAL DIKNAS KAB. MUNA
NO. 421. 5 / 2816
NPSN : 40404276/ NSS : 342200201003

JL. Gambas Sidodadi No. 79 Raha
Telp/Fax : 0403 – 2523318

PROGRAM KEAHLIAN :
SMK Kesehatan Karya Persada Muna Membuka Program Keahlian :
1. Farmasi
2. Analis Kesehatan / Kimia
3. Keperawatan

PERSYARATAN PENDAFTARAN :
Syarat Pendaftaran :
1. Lulusan SLTP atau sederajat
2. Mengisi Formulir pendaftaran dengan melampirkan
Foto copy ijazah dan NEM yang telah dilegalisir
Sebanyak 2 rangkap / Keterangan Ikut Ujian
3. Pas foto terbaru ukuran : 2×3, 3×4, dan 4×6
Masing-masing 3 Lembar

TEMPAT & WAKTU PENDAFTARAN :
SMKS Kesehatan Karya Persada Jl. Gambas No. 79
(Lr. Kantor Catatan Sipil Kab. Muna ) Sidodadi
Waktu Pendaftaran :
Bulan April s/d Juli 2011
Pada Jam Kerja (08.00 – 13.00 Wita)
Sekolah Menengah Kejuruan bidang keahlian Farmasi, yang melihat situasi dan kondisi yang ada menangkap peluang kebutuhan akan tenaga pelaksana di bidang farmasi, termasuk sektor pelayanan (apotek, rumah sakit), juga SMKS Kesehatan Karya PersadaTelah Memiliki sarana Laboratorium Farmasi danKeperawatan serta Laboratorium Komputer dan Fasilitas Internet

INFORMASI PENDAFTARAN
Selengkapnya dapat menghubungi sekretariat pendaftaran SMK Kesehatan Karya Persada
Tahun Ini Penamatan Angkatan I

SPP/ Semester Rp. 600.000,- ( 2 X Bayar )
SDP Rp. 1.000.000,- ( 3X Bayar )

Moto : Kreatif, Trampil Dan Mandiri

TAMAT DAPAT KETERAMPILAN
DAN LEBIH GAMPANG MASUK DUNIA KERJA

PENDAFTARAN GRATIS !!!!!

YAYASAN MITRA KARYA PERSADA
(YAMIKAP)

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
KESEHATAN KARYA PERSADA MUNA

JL. Gambas No. 79 Kel. Sidodadi Kec. Batalaiworu
Telp; 04032711479

PROGRAM KEAHLIAN :
SMK Kesehatan Karya Persada Muna Membuka Program Keahlian :
1. Farmasi
2. Keperawatan
3. Analisis Kesehatan

PERSYARATAN PENDAFTARAN :
Syarat Pendaftaran :
1. Lulusan SLTP atau sederajat
2. Mengisi Formulir pendaftaran dengan melampirkan
Foto copy ijazah dan NEM yang telah dilegalisir
Sebanyak 2 rangkap Atau Keterangan Ikut Ujian
3. Pas foto terbaru ukuran : 2×3, 3×4, dan 4×6
Masing-masing 3 Lembar
DASAR HUKUM PENYELENGGARAAN :
1. Izin Operasional Diknas ; Nomor :421.5/2816 Tanggal 1 Juli 2008
2. NPSN : 40404276
3. NSS : 342200201003
TEMPAT & WAKTU PENDAFTARAN :
SMKS Kesehatan Karya Persada Jl. Gambas No. 79
(lr. Catatan Sipil Kab. Muna) Telp : 0403 – 2711479
Waktu Pendaftaran :
Mulai Bulan Mei sampai dengan Juli 2010
Pada Jam Kerja (08.00 – 13.00 Wita)

VISI
Menciptakan Sumber Daya Manusia Yang Memiliki Ketrampilan , Etos kerja , Disiplin dan Memiliki wawasan IPTEK dan IMTAQ sesuai dengan bakat yang dimilikinya
Moto : Kreatif, Trampil Dan Mandiri

PELUANG
Tamatan SMK Kesehatan Karya Persada Muna dapat Bekerja sesuai dengan Bidang Keahlian yang dimilikinya. Serta dapat melanjutkan Pendidikan kejenjang yang lebih tinggi baik dibidang Kesehatan Maupun dibidang Disipilin Ilmu yang lain.

INFORMASI PENDAFTARAN
Contac Person:

YAYASAN MITRA KARYA PERSADA
(YAMIKAP)

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
PELAYARAN KARYA PERSADA

JL. Paelangkuta No. 137 Kel. Napabalano
Kec. Napabalano – Kab. Muna

PROGRAM KEAHLIAN :
SMK Pelayaran Karya Persada Membuka Program Keahlian :
1. NKPI
2. NKN ( Nautika Kapal Niaga )
3. Teknika
4. Tata Laksana Pelayaran Niaga
PERSYARATAN PENDAFTARAN :
Syarat Pendaftaran :
1. Lulusan SLTP atau sederajat
2. Mengisi Formulir pendaftaran dengan melampirkan
3. Foto copy ijazah dan NEM yang telah dilegalisir
4. Sebanyak 2 rangkap Atau Keterangan Ikut Ujian
5. Pas foto terbaru ukuran : 2×3, 3×4, dan 4×6 Masing-masing 3 Lembar
DASAR HUKUM PENYELENGGARAAN :
1. Izin Operasional Diknas ; Nomor :421.5/2816 Tanggal 1 Juli 2008
2. NPSN :
3. NSS : 342200201003
TEMPAT & WAKTU PENDAFTARAN :
Kampus SMKSb€ Pelayaran Karya Persada Jl. Paelangkuta No.137 Napavbalano ( Rumah Capt. La Ode Appo,ANT IV)
Waktu Pendaftaran :
Mulai Bulan Maret sampai dengan Juli 2011
Pada Jam Kerja (08.00 – 13.00 Wita)
VISI
Menciptakan Sumber Daya Manusia Yang Memiliki Ketrampilan , Etos kerja , Disiplin dan Memiliki wawasan IPTEK dan IMTAQ sesuai dengan bakat yang dimilikinya

Moto : Kreatif, Trampil Dan Mandiri

PELUANG
Tamatan SMKS Pelayaran Karya Persada Setelah Tamat Bekerja pada Perusahaan Pelayaran dan Kapal Niaga Baik Luar Negeri maupun Dalam Negeri dengan gaji yang memadai sesuai dengan Bidang Keahlian yang dimilikinya.Serta dapat melanjutkan Pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

INFORMASI PENDAFTARAN
Contac Person:
1. Santi Hp;085399445888
2. Supartina
3. Iwan Saputra :085299460585
4. Capt. La Ode Appo,ANT IV

LEMBAGA PENDIDIKAN PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MASYARAKAT TERPADU
( LP3- KTM )

SATU – SATUNYA DIKABUPATEN MUNA

BIDANG KEAHLIAN PELAYARAN DAN PERIKANAN LAUT

JL. B. Kamboja No. 07 Kel. Wamponiki
Kec. Katobu – Kab. Muna

LATAR BELAKANG :
LP3-KTM adalah Lembaga ini bergerak pada pendidikan Pelatihan Pengembangan Profesi Kerja dengan Izin Penyelenggaraan Pelatihan Kerja Dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Muna Nomor : Kep.05/2010 . Dimana akan menyelenggarakan Pelatihan Kerja dibidang Pelayaran dan Perikanan Laut yang mempersiapkan Tamatan Diklat yang siap Kerja Pada Armada Kapal Perusahaan Pelayaran dan Perikanan Laut dalam dan luar negeri. Dengan penghasilan / gajiyang sangat menjajikan yaitu 3 – 5 juta/ bulan ditambah bonus setiap tahun 35 juta – 50 juta / tahun . Mendapat jaminan kesehatan , keselamatan dan kesejahteraan.
PERSYARATAN PENDAFTARAN :
Syarat Pendaftaran :
1. Lulusan SLTA , SMK atau sederajat
2. Umur 20 – 30 Tahun
3. Mengisi Formulir pendaftaran
4. Foto copy ijazah dan NEM yang telah dilegalisir
5. Pas foto terbaru ukuran : 2×3, 3×4, dan 4×6 Masing-masing 3 Lembar
6. Kelakuan Baik dari Desa/ Kelurahan
7. Biaya Dilklat Rp 500.000,-
8. Jam Diklat 14.00 s.d 17.00 Wita
TEMPAT & WAKTU PENDAFTARAN :
Sekretariat LP3-KTM Jl. B. Kamboja No.07 Wamponiki Tlp. (0403) 2523318 Raha
Waktu Pendaftaran :
Setiap Jam Kerja (08.00 – 13.00 Wita)

VISI
Menciptakan Sumber Daya Manusia Yang Memiliki Ketrampilan , Etos kerja , Disiplin dan Memiliki wawasan IPTEK yang Siap Keja
MISI
1. Tenaga Instruktur Ahli Dalam Bidangnya
2. Mempersiapakan Tenaga Kerja terlatih dibidang Pelayaran dan perikanan laut
3. Mengatasi Jumlah pengangguran
4. Diklat diselengarakan selama 2 bulan
5. Memiliki Sertifikat Pelatihan
6. Memperoleh BST dan Buku Pelaut
7. Penempatan Kerja Pada Kapal dalam dan Luar Negeri
FASILITAS
1. Sarana Gedung Yang Memadai
2. Sarana Pembelajaran memadai
3. Baju Kaos Pelatihan
4. Kerjasama Pihak Perusahaan Pelayaran dan BP2IP Barombong Makassar
INFORMASI PENDAFTARAN
Contac Person:
1. Santi ( 085399445888)
2. Arbin ( 085255927771 )
3. Iwan Saputra ( 085299460585)
4. Novrizal ( 081341805115 )
5. Ld. Alfin (081356218099)

DAFTARKAN DIRI SEGERA KUOTA TERBATAS !!!!

Oleh: albertmuna | April 25, 2011

materi komunikasi

Data Dosen: ALBERT,

Perguruan Tinggi STIKES Mandala Waluya Kendari
Pengampu/Penanggungjawab pada Program Studi Kesehatan Masyarakat
Jenjang: S-1
No. Dosen/NIDN 0915047803
Jenis Kelamin Laki-Laki
Jabatan Fungsional Akademik TENAGA PENGAJAR
Pendidikan Tertinggi S-1
Status Ikatan Kerja DOSEN TETAP
Status Aktivitas AKTIF MENGAJAR
NIP PNS
Instansi Induk STIKES Mandala Waluya Kendari
No. Reg. Sertifikasi Dosen


Riwayat Pendidikan

Nama PT

Kota

Bidang Ilmu

Gelar


Riwayat Mengajar

SEMESTER

PT

MK

Jenjang

SKS

Tatap Muka

Rencana

Realisasi

20072 STIKES Mandala Waluya Kendari 0202PSDM2 S-1 0 16 8
20081 STIKES Mandala Waluya Kendari 0201ATPS2K S-1 0 16 8

Materi Kuliah Komunikasi dan konseling dalam praktek kebidanan

BAB I
KOMUNIKASI

1.PENGERTIAN KOMUNIKASI
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.
Pengertian Komunikasil
Menurut Dokter Phill Astrid Susanto
Komunikasi adalah proses pengoperasian lambang-lambang yang mengandung arti.v
Keith DafisØ
Komunikasi adalah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lainv
Oxford Dictionary 1956Ø
Komunikasi adalah pengiriman / tukar menukar informasi, ide dan sebagainya.v
Drs. Onong Uchjana Effendy. MAØ
Komunikasi adalah mencakup ekpresi wajah, sikap dan gerak gerik suarav kata-kata tertulis, percetakan, kereta api, telegraf dan lain-lain.
• Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman .Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gesture, dan broadcasting. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.2 . Sejarah komunikasi
Pada awal kehidupan di dunia, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan.
Pada binatang, selain untuk seks, komunikasi juga dilakukan untuk menunjukkan keunggulan, biasanya dengan sikap menyerang. Munurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya “otak reptil” menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi. Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain “tingkat tinggi”.

Fungsi Komunikasi
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari kegiatanl komunikasi. Kenyataannya komunikasi secara mutlak merupakan bagian integral dari kehidupan kita.
Fungsi komunikasi bagi bidan sangat besar sekali untuk lebihl mengembangkan kepribadian serta untuk kelancarannya pelaksanaan tugas sehari-hari.
1.3.Komponen komunikasi
Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:
1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
3. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain .
4 .Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya
1.4.Proses komunikasi
Proses Komunikasi
Sender Chanell
Meaning → Encode → Message → Receiverl
l Decode → Meaning
l Noise (dilihat)
l Freed Back
Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.
1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
3. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti kedua pihak.
4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
1.5.Teknologi komunikasi
Dalam telekomunikasi, komunikasi radio dua-arah melewati Atlantik pertama erjadi pada 25 Juli 1920.Dengan berkembangnya teknologi, protokol komunikasi juga turut berkembang, contohnya, Thomas Edison telah menemukan bahwa “halo” merupakan kata sambutan yang paling tidak berambiguasi melalaui suara dari kejauhan; kata sambutan lain seperti hail dapat mudah hilang atau terganggu dalam transmisi. Batasan dalam komunikasi
Batasan dalam komunikasi termasuk:
a) Bahasa
b) Penundaan waktu
c) Politik
5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain
1.Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
2.Empathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand – understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
3.Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.
4.Clarity
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.
5.Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
1.6. KONSEP KOMUNIKASI
Jenis-jenis Komunikasi
Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal menggunakan kata-kata mencakup komunikasi bahasa lisan. Kata-kata yang digunakan dipengaruhi oleh :
Latar belakang sosial budayav
Ekonomiv
Umurv
Pendidikanv
Dalam menggunakan suara ada 7 pokok tentang suara yang perlu diperhatikan adalah :
Gema SuaraØ
IramaØ
KecepatanØ
KetinggianØ
Besar / VolumeØ
Naik turunnyaØ
KejelasanØ
Suara tersebut dapat menggambarkan semangat, antusias, kesedihan, kejengkelan atau kegiranganØ
Komunikasi Nonverbal
Yakni mencakup :v
Gerak gerikü
Sikapü
Ekspresi wajahü
Penampilanü
Komunikasi nonverbal tanpa menggunakan kata-kata dan disebut juga bahasa tubuh (body language)v
Model Komunikasi
Ada 3 macam model komunikasi :
Komunikasi Searahv
Komunikator mengirim pesannya melalui saluran / media dan diterimaØ oleh komunikan, sedangkan komunikan tersebut ≠ memberiakn umpan balik ( prit back)
Komunikasi Dua ArahØ
Komunikator mengirim pesan (berita) diterima oleh komunikan setelahØ disimpulkan kemudian komunikan mengirimkan umpan balik kepada sumber berita atau komunikator.
Komunikasi berantaiØ
Komunikan menerima pesan / berita dari komunikator kemudian disalurkanØ kepada komunikan kedua, dari komunikan kedua disampaikan kepada komunikan ketiga dan seterusnya
Elemen Komunikasi
Ada 5 elemen yang berperan dalam komunikasi :
1. Komunikator
Bisa individu, keluarga maupun kelompok yang mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yang menjadi sasarnnya.
2.Massage (pesan / berita)
Adalah berita yang disampaikan oleh komunikator yang melalui :Ø
Lambang-lambangØ
PembicaraanØ
Gerakan ( lambaian tangan, sinar, kibaran bendera dan lain-lain)Ø
Gerakan ( lambaian tangan, sinar, kibaran bendera dan lain-lain)Ø
3.Channel (Saluran)
Adalah sarana tempat berlakunya lambang-lambang. Saluran tersebut meliputi:Ø
Pendengaran (lambang berupa suara)Ø
Penglihatan (lambang berupa sinar, pantulan sinar / gambar)Ø
Penciuman (lambang yang berupa bau-bauan)Ø
Rabaan (lambang berupa rangsang rabaan)Ø
4.Komunikan
adalah objek sasaran dari kegiatan komuniksi / orang yang menerima lambangØ / berita.
5.Freed Back
adalah arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasiØ
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
Ditinjau dari komunikator :l
Kecakapan komunikatorl
Menguasi cara-cara menyampikan buah pikiran, mudah di mengerti dan sederhana.Ø
Cakap dalam memilih lambang / simbol yang tepat untuk mengungkapkan buah pikiran.Ø
Bisa membangkitkan minat para pendengarnya.Ø
Pandai menarik perhatian.Ø
Dapat memancing lawan bicara untuk dapat mengemukakan pendapatnya.Ø
Tak ber belit-belit dalam menyampaikan pesannya.Ø
• Sikap komunikator
beberapa sikap yang dapat mendukung berhasilnya komunikasi.Ø
Sikap terbuka.Ø
Muka manis.Ø
Saling percaya.Ø
Rendah hati.Ø
Dapat menjadi pendengar yang baik.Ø
INTERAKSI SOSIAL
Pengertian
Suatu hubungan antara dua / lebih individu manusia dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki kelakuan individu yang lain / sebaliknya.
Faktor-faktor yang mendasari interaksi sosial
Faktor imitasi
Pada mulanya seluruh kehidupan sosial berawal dari proses imitasil
Syarat terjadinya imitasi
Minat perhatian yang cukup besar akan hal tersebut.Ø
sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang di imitasiØ
Dapat juga orang-orang mengimitasi suatu pandangan / tingkah laku karena, hal itu mempunyai penghargaan sosial yang tinggi.Ø
KOMUNIKASI EFEKTIF
Adalah Komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlihat pada komunikasi.
Tujuan komunikasi efektif adalah :
Memberi kemudahan dalam memahami pesan yang di sampaikan antara pemberi dan penerima sehingga bahasa lebih jelas, lengkap, pengirim dan umpan balik seimbang dan melatih pengguna bahasa non verbal secara baik.
Bentuk karakteristik komunikasi efektif.
Komunikasi verbal efektifv
Jelas dan ringkas
Komunikasi berlangsung efektif, sederhana, pendek dan langsung. Makinv sedikit kata-kata yang di gunakan kecil kemungkinan terjadi keracunan.
Perbendaharaan katav
Penggunaan kata-kata yang mudah di mengerti oleh klien. Komunikasiv tidak akan berhasil jka pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata-kata dan ucapan yang di sampaikan
Contoh bahasa kedokteran / kebidanan.v
Arti Denotatif dan Konotatifv
Dalam komunikasi dengan klien dan keluarganya, bidan harus memilihv kata-kata yang tidak banyak di salah tafsirkan, terutama sangat penting menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi pasien.
Intonasiv
Suara komunikator mampu mempengarih arti pesan. Nada suara pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan.v
Kecakapan berbicarav
Keberhasilan komunikasi verbal di pengaruhi oleh kecakapan bicara dan tempo bicara yang tepat.v
Komunikasi Non verbalv
Komunikasi non verbal dapat di sampaikan melalui beberapa cara, yaituv penampilan fisik, sikap tubuh dan cara berjalan, Ekspresi wajah dan sentuhan.
Penampilan fisikv
Penampilan fisik bidan mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan kebidanan yang di terima.v
Sikap Tubuh dan Cara Berjalan.v
Sikap tubuh dan cara berjalvan mencerminkan konsep diri alam perasaan (mood) dan kesehatan
Ekspresi Wajahv
Merupakan bagian tubuh yang paling ekspresif. hasil penelitianv menunjukan enam keadaan emosi utama yang tampak melalui ekspresi wajah. Yaitu : Terkejut, Takut, Marah, Sisik, Bahagia dan Sedih.
Orang yang memepertahankan kontak mata selama pembicaraanv dipersepsikan sebagai orang yang dapat dipercaya dan memeungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik.
Sentuhanv
Kasih sayang, Dukungan emosional dan perhatian di berikan melalui sentuhan.v
Sentuhan merupakan bagian penting dalam hubungan bidan—klien namun harus memeperhatikan norma sosial.v
Komunikasi mempunyai arti pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.v
Kelompok merupakan sekumpulan manusia yang berinteraksi antarv nggotanya, mempumyai tujuan dan organisasi (tidak selalu formal) serta di perlukan kesadaran anggotanya akan ikatan yang sama memepersatukan mereka.
Jadi kelompok mempunyai 2 tanda psikologis yaitu:v
Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok, yang tidak memiliki orang yang bukan anggota.v
Nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dengan hasil yang lain.v
Bagaimana mengendalikan kelompok dengan baik
Tidak membiarkan peserta berbicara bersamaan.ü
Pertahankan spontanitas peserta dengan tidak memotong pembicaraanü peserta dan setiap peserta di beri kesempatan yang sama untuk berbicrara.
Pembicaraan ttetap duduk pokok bahasan dengan cara memingatkan peserta untuk kembali pada topik yang di bicarakan.ü
Tidak menyalahkan, mencemooh pendapat peserta.ü
Mendorong peserta yamg diam untuk berbicara dengan cara meminta orangü tersebut untuk menceritakan masalah atau menceritakan masalah yang di hadapi.Beri perhatian terhadap apa yang dikatakannya.
Strategi menghadapi kelompok peserta yang kurang mendukung kelancaran kegiatan.
Tipe PasifØ
Strateginya :
Ajukan pertanyaan lansung pada peserta bersangkutan.ü
Mintalah mereka berbagi rasa berpasang-pasang.ü
Mintalah untuk menulis komentar atau jawaban pertanyaan.ü
Berikan inisiatif kecil.ü
Merubah metode penyampaian dengan kegiatan yang lebih menarik.ü
Strateginya :
Ajukan pertanyaan tentang sebab sikap agresifnya.ü
Beri kesempatan dan curahkan perasaan tentang keadaan.ü
Jangan menganggap orang tersebut mewakili kelompok, cek dengan kelompok.ü
Persentasikan data.ü
Tipe Banyak Bicara
Strateginyal :
Beri tanggung jawab sebagai pemimpin kelompok.ü
Hindarkan pandangan terhadap peserta yang banyak bicara/hadapkan tubuh ke peserta lain.ü
Jika perlu beri tahu peserta yang banyak bicara secara halus bahwaü pendapatnya menarik tapi kta membutuhkan pendapat yang lain
• HAMBATAN KOMUNIKASI -*-
• Ahli sosiologi, negarawan, penasehat pernikahan, banyak golongan yang berbeda-beda, sependapat bahwa dewasa ini kebutuhan terutama adalah komunikasi yang sunguguh-sungguh. Teknologi semakin meningkat, buku-buku bertambah banyak disegala bidang. Tetapi komunikasi orang dengan lainnya mungkin tidak pernah sedangkal seperi sekarang ini. Komunikasi manusia tidak lagi berdasarkan kebenaran. Jurang pemisah bukan hanya pada politik, pada usaha periklanan, tetapi juga di dalam gereja Yesus Kristus. Semua persoalan komunikasi berakar di Taman Eden. Allah memilih untuk mengadakan hubungan yang sangat intim dengan manusia yang Ia ciptakan menurut gambar-Nya sendiri sebagai mahluk yang dapat berkomunikasi. Adam berkomunikasi secara pribadi dengan menggunakan
• MENUMBUHKAN HUBUNGAN INTERPERSONAL DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL
• Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
• 1. Percaya/trust. Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
• a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, ketrampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
• b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
• c. Kualitas komunikasi dan sifatnya menggambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan tumbuh.
• 2. Prilaku suportif akan meningkatkan komunikasi. Beberapa ciri prilaku suportif yaitu:
• a. Deskripsi: penyampaian pesan, perasaan dan persepsi tanpa menilai atau mengecam kelemahan dan kekurangannya.
• b. Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama- sama menetapkan tujuan dan menentukan cara mencapai tujuan.
• c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.
• d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
• e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan. f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
• 3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara objektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dan lain sebagainya. Agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif dan kerja sama bisa ditingkatkan, kita perlu bersikap terbuka dan menggantikan sikap dogmatis. Kita perlu juga memiliki sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong timbulnya sikap saling memahami, menghargai dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan kerjasama antara berbagai pihak, tidak terkecuali dalam lembaga pendidikan. – Sumber
• Komunikasi
• telah menjadi suatu bidang yang amat luas cakupannya. Hampir
• semua aktivitas manusia tidak terlepas dari komunikasi dalam berbagai cara apakah
• itu secara verbal, tulisan, gestural, dan bentuk komunikasi lainnya.
• Sebagai suatu proses, komunikasi mempunyai asumsi dasar bahwa dengan
• berkomunikasi, seseorang depat ditingkatkan kemampuan dasarnya untuk kemudia
• dapat mengatasi segala persoalan komunikasi yang dihadapinya
• berbicara tentang komunikasi seseorang, dua orang atau sebuah kerjasama
• International. Unsur-unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri karena merupakan
• sebuah proses. Semua unsur itu mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
• Dalam komunikasl, sumber dan penerima harus dalam sistem yang sama.
• Jika tidak, komunikasi tidak akan terjadi.
• Ketepatan Komunikasi
• Dalam membahas ketepatan komunikasi eletronik, Shannon den Weaver
• memperkenalkan konsep “noise” yang diartikan mereka sebagai faktor-fektor yang
• mengganggu kualitas sebuah signal. Merujuk konsep tersebut, Berlo mendefinisikan
• “noise” dalam proses komunikasi sebagai faktor-faktor dalam unsur-unsur
• komunikasi yang dapat mengurangi keefektifan komunikasi. Menurut Berlo, “noise”
• dan “fidelty” merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Mengurangl “noise”
• (keributan) berarti meningkatkan “fidelity” (ketepatan), demikian sebaliknya.
• Adapun faktor–faktor yang menentukan efektif tidaknya komunikasi
• tersebut
• meliputi :
• 1. The Source-Encoder.
• Dalam hal ini terdapat empat faktor yang meleket dalam diri sumber, yang
• dapat meningkatkan ketepatan komunikasi, yakni
• a). keterampilan berkomunikasi
• b). sikap mental
• c). tingkat pengetahuan dan
• d). posisinya dalam sistem sosial
• kultural.
• Tingkat keterampilan berkomunikasi sumber menentukan ketepatan komunikasi
• dalam dua cara. Pertama, mempengaruhi kemampuan dalam berbicara, dan yang
• kedua mempengaruhi kemampuan menyampaikan pessn seperti yang kita
• maksudkan. Mengenai sikap mental, ada tiga tipe sikap sumber yang dapat
• mempengaruhi proses komunikasi, yakni terhadap:
• a). diri sumber sendiri
• b).Subject
• c) matter
• d) terhadap penerima pesan (receiver).
• Tingkat pengetahuan sumber juga akan menentukan seberapa jauh dia memahami sikap mentalnya sendiri,
• kerakteristik receiver, dengan cara bagaimana dia menyampaikan pesannya, jenis-jenis saluran yang dipilihnya, dan sebagainya. Faktor yang keempat adalah sistem sosial budaya yang melatar belakangi sumber. Faktor ini sangat mempengaruhi perilaku komunksil sumber.
• 2. The Decoder-Receiver.
• Pada prinsipnya, faktor-faktor yang melekat dalam diri penerima pesan sama dengan sumber. Dengan kata lain, receiver juga harus mempunyai keterampilanberkomunikasi, sehingga dapat menerima pesan. Begitu pula dengan sikap mental,tingkat pengetahuan dan sistem sosial budaya receiver, mempengaruhinya dalam menerima pesan yang disampaikan sumber.
• 3. Pesan.
• Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam pesan:
• 1). Kode pesan,
• 2). Isi pesan,
• 3). Perlakuan terhadap pesan.
• Kode pesan adalah setiap kelompok simbol yang dapat disusun sedemikian rupa, yang mempunyai arti bagi sebagian orang. Isi pesan dapat didefinisikan sebagai meteri yang dipilih sumber untuk menyampaikan ujuannya. Sedangkan perlakuan terhadap pesan adalah keputusan-keputusan yang diambil sumber dalam memilih dan menyusun kode isi pesan.
• 4. Saluran
• Faktor ini menyangkut cara-cara penyampaian dan penerimaan pesan, pembawa pesan (vehicle carriers) yang mempengaruhi efisiensi dan efektifnya komunikasi.
• Komunikasi Sebagai Proses Belajar
• Berbicara tentang komunikasi dalam konteks perorangan pada dasarnya berbicara tentang bagaimana orang belajar. Dalam hal ini belajar menggunakan istilah “stimulus” den “respon”.Stimulus diartikan sebagai segala kejadian yang dapat dirasakan olehseseorang, dengan kata lain segala sesuatu yang dapat diterima orang melalui salah satu alat penginderaanya(penglihatan, pendengaran dan lainnya). Sedangkan respon diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap stimulus, atau perilaku yang timbul karena adanya stimulus. Respon dapat dibedakan atas: respon yang terbuka (overt responses) yakni yang dapat diamati, dirasakan, dieteksi, dan respon yang tertutup (covert responses) yakniRespon yangterdapat di dalam diri seseorang; tidak dapat diamati, bersifat pribadi.
• Belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam hubungan yang stabilantara:
• a). suatu stimulus yang dirasakan seseorang dan
• b). respon yang dilakukan,baik tertutup maupun terbuka.
• Suatu proses belajar terjadi jika seseorang:
• 1).Melakukan respon yang sama secara terus menerus terhadap stimulus yang
• berbeda,
• 2). Melakukan respon yang berbeda terhadap stimulus yang sama.
• Proses belajar meliputi adanya stimulus (segala sesuatu yang dapat dirasakan oleh organisme). Selanjutnya, organisme harus merasakan objek yang menjadi stimulus, menginterpretasikannya, untuk selanjutnya melahirkan respon. Meskipun demikian, seseorang belum bisa dikatakan belajar hanya disebabkan dia membuat sekali atau duakali respon
• . Belajar terjadi jika merespon stimulus tersebut menjadi kebiasaan (habit). Untuk membentuk kebiasaan ini, belasan atas respon (reward) merupakan faktor yang mempengaruhi. Seseorang akan mengulangi responnya jika medapat balasan Berlo menyebut lima faktor yang dapat memperkuat kebiasaan.
• Pertama frekuensi pengulangan balasan: adanya stimulus menimbulkan respon, dan jika respon ini mendapat balasan, akan memperkuat kebiasaan.
• Kedua, mengisolasi hubungan S (stimulus) R (Respon): organisme tldak memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang berbeda.
• Ketiga, banyaknya balasan : lebih banyak balasan, akan lebih memperkuat kebiasaan.
• Keempat, selang waktu antara respon-balasan: lebih cepat seseorang merasakan balasan responnya, lebih besar kemungkinan dirinya mempertahankan respon.
• Kelima, usaha yang diperlukan untuk merespon:respon yang dapat dilakukan dengan mudah akan lebih bertahan dibanding respon yang sulit untuk dilakukan.
• Komunikasi dan belajar : Proses yang Memiliki Kesamaan.
• Komunikasi dan belajar mempunyai unsur-unsur yang sama dengan unsur-
• unsur yang dimiliki belajar. Perbedaan hanya terjadi dalam memulai prosesnya.Belajar selalu dimulai dengan mempersepsikan suatu stimulus (decodea message),sedangkan komunikasi dimulai tujuan sumber berkomunikasi (interpretation) . Interaksi Dalam semua situasi komunikasi, sumber dan penerima pesan mempunyai ketergantungan satu sama lain. Tingkat ketergantungan yang paling tinggi terdapat dalam konsep dyadic, yang memperlihatkan adanya hubungan antara berbagai kejadian yang tidak dapat berdiri sendiri.Berlo membedakan empat tingkat ketergantungan komunikasi, yakni:
• 1.Ketergantungan: fisik,
• 2). Ketergantungan aksi-reaksi,
• 3). Empathy dan,
• 4).Interaksi.
• 1. Ketergantungan fisik (Definitional-Physical interdependence). Pada
• tingkatan ini, sumber dan penerimaan berada dalam ketergantungan yang
• bersifat fisik. Meskipun terjadi komunikasi, namun antara sumber dan
• penerimaan tidak bereaksi terhadap masing-masing pesan.
• 2. Ketergantungan Aksi-Reaksi
• (Action-Reaction Interdependence).
• Komunikasi umumnya meliputi tingkat ketergantungan ini. Aksi dari sumber
• mempengaruhi reaksi penerima; reaksi dari penerima kemudian mempengaruhi reaksi sumber lagi dan seterusnya Dalam hal ini antara sumber dan penerima dapat menggunakan reaksi masing-masing. Reaksi yang merupakan umpan balik tersebut digunakan sumber ataupun penerima untuk memeriksa, menentukan bagaimana sebaiknya mereka menyempurnakan tujuannya. Jika umpan balik dimaksud mendapat balasan dengan balk, maka sumber/penerima akan meneruskan cara-caranya yangsama. Namun jika tidak, sumber/penerima akan mengganti pesan mereka dengan cara-cara yang lain.
• 3. Empathy. Komunikasi
• Umumnya meliputi gambaran pengertian atas tanggapan pesan yang disampaikan. Dalam hal ini terdapat harapan yang digunakan dalam mengkode, menerima code, dan merespon pesan. Harapan yang diberikan pihak-pihak yang berkomunikasi dipengaruhi oleh keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan dan sistem sosial kultural. Untuk mengetahui harapan penerima pesan, kita harus mempunyai keterampilan yang dalam ilmu psikologi disebut empathy, yakni kemampuan untuk memproyeksikandiri kita kepada kepribadian orang lain. Sehubungan ini ada dua teori empathy:
• 1). Inference Theory of Empathy
• 2).Role-Taking Theory of Empathy.
• 4. Interaksi.
• Tingkat terakhir dari ketergantungan yang kompleks adalah interaksi, yang merupakan istilah dari proses saling berperan, perwujudan dari perilaku yang empathic. Jika dua individu membuat kesimpulan tentang masing-masing peran mereka pada saat yang sama, dan jika tingkah laku komunikasi mereka tergantung pada saling memberi peran, maka mereka berkomunikasi dengan berinteraksi satu dengan yang lain. Konsep Interaksi merupakan inti untuk memahami konsep proses komunikasi. Dalam komunikasi, kita harus mempredikasi bagaimana orang lain berperilaku. Seperti diketahui bahwa saling memberi peran (role taking), empathy,dan interaksi digunakan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi yang efektif, Namun ketiga aspek tersebut paling tidak memillki dua kelemahan:
• 1) role taking dan interaksi dalam prosesnya memerlukan energi yang cukup besar,
• 2) prediksi yang emphatic memerlukan beberapa prasyarat yang terkadang tidak dapat ditemukan. Keberhasilan dalam membuat prediksi dari role taking bersandar pada asumsi:
• 1) kita tidak berbicara dengan banyak orang,
• 2) sebelumnya kita memiliki pengalaman dengan orang-orang tersebut, dengan demikian kita mempunyai dasar untuk membuat prediksi tentang mereka
• 3) kita sensitif dengan perilaku manusia,
• 4) kita termotivasi untuk berinteraksi.
• Komunikasi dan Sistem Sosial
• Sistem sosial adalah kumpulan dari peran-peran ketergantungan. Dalam membicarakan sistem sosial, kita membentuk perilaku peran (role behavior) yang menempati suatu kedudukan (role position) dalam struktur sosial. Role behavior dapat dibagi atas dua kelompok: the must’s (yang seharusnya)dan the may’s (yang boleh). Perilaku seseorang yang menempati peran apapun dapat dianalisa dengan konsep “the must’s” den “the may’s” Ini. Kita dapat menentukan keseluruhan sistem perilaku peran secara eksplisit. Dalam setiap kelompok, terdapat tekanan group untuk meyakinkan bahwa anggota group menyesuaikan peran-peran mereka. jika anggota merespon tekanan ini, yakni melakukan the must’s, anggota tersebut diberi sesuatu (reward). Namun jika mereka menyimpang dari perilaku yang telah ditentukan, mereka dihukum, bahkan boleh jadi dikeluarkan dari group. Tekanan group inilah yang disebut norma. Dalam membicarakan tujuan group, perlu dibedakan antara produktivitas atau tugas untuk menyempurnakan tujuan, dengan upah atau pencapaian kepuasan anggota. Komunikasi dengan organisasi sosial paling tidak berhubungan dalam tiga cara.
• Pertama, sistem sosial diproduksi melalui komunikasi.
• Kedua, pembangunan sebuah sistem sosial ditentukan oleh komunikasi anggotanya.
• Ketiga, komunikasi mempengaruhi sosial sistem dan sebaliknya, sistem sosial mempengaruhi komunikasi.
• Pengetahuan tentang suatu sistem sosial dapat membantu kita untuk membuat ramalan yang akurat tentang orang, tanpa memerlukan emphaty atau interaksi, tanpa mengetahui segala sesuatu tentang orang tersebut, kecuali hanya peran-peran yang mereka miliki dalam sistem. Kegagalan komunlkasi dapat disebabkan kesalahan dalam: peramalan role behavior, role position, multiple roles, konflik peran dan norma, dan komunikasi lintas sistem sosial.
• Makna dalam Komunikasi
• Makna (meaning) adalah inti dari komunikasi. Dalam komunikasi, sumbermaupun penerimaan berusaha memilih kata-kata yang menjelaskan pengertian masing-masing. Kata-kata tersebut merupakan pesan (message), Ide yang diekspresikan dengan cara-cara tertentu (perlakuan) melalui penggunaan kode. Dalam artikelnya “The Origins of Language”, Thorndike menyatakan ada empat hipotesa tentang dasar kegunaan suara-suara manusia yang mengekspresikan maksudnya. Empat kelompok itu adalah “ding-dong”, “bow- bow”,”pooh-pooh, dan “yum-yum”. Teori “Ding-dong” menyatakan bahwa suara memberi arti pada sesuatu di mana setiap orang memberikan arjti yang sama. Menurut teori “Bow-Bow”, manusia meniru bunyi-bunyi (suara) yang dihasilkan binatang. Teori “Pooh-Pooh” menyebutkan, manusia membuat suara-suara instinctive tertentu dan kita telah mempunyai arti untuk suara ini karena kita membuatnya. Sedangkan teori “YumYum” mengatakan manusia memberi respon fisik pada setiap stimulus.Sebagian dari respon fisik ini dilakukan mulut. Berlo membuat asumsi yang terbaik tentang asal bahasa dalam pernyataan berikut :
• 1) bahasa sendiri atas suatu perangkat simbol-simbol yang berarti plus cara-cara yang bermakna untuk mengkombinasikannya,
• 2) simbol dari suatu bahasa dipilih melalui kesempatan, bukan pemberian Tuhan,
• 3). menusia membangun bahasanya sendlri dengan prinsip yang sama tentang interprestasi, respon dan balasan yang dilakukan melalui belajar,
• 4). manusia lambat laun membentuk bahasanya dalam upaya mengekspresikan pengertian pada dirinya dan orang lain, membuat orang lain mempunyai pengertian yang sama, dan untuk menimbulkan respon yang akan menambah kemampuannya untuk mempengaruhi.
• Fungsi bahasa adalah untuk mengekspresikan makna. Makna itu sendiri melekat pada semua definisi bahasa. Makna tidak terdapat di dalam pesan (message), tetapi berada pada orang. Makna pribadi sifatnya, yang berbeda dari satu orang dengan orang lainnya. Makna adalah sesuatu yang dipelajari.
Komunikasi intrapersonal
Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktifitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif
Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini
• Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).
• Kesimpulan :
• Komunikasi adalah penyampaian dari seseorang kepada orang lain dengan menyertakan kode atau lambang penyampaiannya itu sendiri melalui suatu proses.
• Analisis Pengertian Komunikasi Dan 5 (Lima) Unsur Komunikasi Menurut Harold Lasswell
• Analisis Definisi Komunikasi Menurut Harold Lasswell
• Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?). (Lasswell 1960).
• Analisis 5 unsur menurut Lasswell (1960):
• 1. Who? (siapa/sumber).
• Sumber/komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi,bisa seorang individu,kelompok,organisasi,maupun suatu negara sebagai komunikator.
• 2. Says What? (pesan).
• Apa yang akan disampaikan/dikomunikasikan kepada penerima (komunikan),dari sumber (komunikator)a tau isi informasi.Merupakan seperangkat symbol verbal/non verbal yang mewakili perasaan,nilai,gagasan/maksud sumber tadi. Ada 3 komponen pesan yaitu makna,symbol untuk menyampaikan makna,dan bentuk/organisasi pesaN
• 3. In Which Channel? (saluran/media).
• Wahana /alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator(sumber) kepada komunikan(penerima) baik secara langsung (tatap muka), maupun tidak langsung (melalui media cetak/elektronik dll).
• 4. To Whom? (untuk siapa/penerima).
• Orang/kelompok/organisasi/suatu negara yang menerima pesan dari sumber.Disebut tujuan (destination) /pendengar (listener)/ khalayak (audience)/ komunikan/penafsir/penyandi balik (decoder).
• 5. With What Effect? (dampak/efek).
• Dampak/efek yang terjadi pada komunikan(penerima) setelah menerima pesan dari sumber,seperti perubahan sikap,bertambahnya pengetahuan, dll.
• Contoh: Komunikasi antara guru dengan muridnya.
Guru sebagai komunikator harus memiliki pesan yang jelas yang akan disampaikan kepada murid atau komunikan.Setelah itu guru juga harus menentukan saluran untuk berkomunikasi baik secara langsung(tatap muka) atau tidak langsung(media).Setelah itu guru harus menyesuaikan topic/diri/tema yang sesuai dengan umur si komunikan,juga harus menentukan tujuan komunikasi/maksud dari pesan agar terjadi dampak/effect pada diri komunikan sesuai dengan yang diinginkan.
• Kesimpulan:
Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan(penerima) dari komunikator(sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator.Yang memenuhi 5 unsur who, says what, in which channel, to whom, with what effect.
• GAYA KOMUNIKASI
• Ada orang-orang tertentu yang seolah-olah dilahirkan untuk menjadi orang yang sukses dalam pergaulan. Dengan mudahnya mereka dapat menjalin persahabatan setiap bertemu dengan teman yang baru. Bukan itu saja, persahabatan mereka pun biasanya bertahan sampai kekal. Sebaliknya, ada pula orang-orang yang justru mengalami kesukaran dalam pergaulan. Tema “disalah mengerti” merupakan tema pokok hidup mereka meski mereka tak henti-hentinya berusaha mengoreksi diri. Banyak faktor yang terlibat yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita dalam pergaulan, salah satunya adalah gaya kita berkomunikasi.
• Gaya 1: Si Penganggap
• adalah, “Saudara seharusnya sudah mengerti maksud saya.” Si Penganggap umumnya melakukan satu kesalahan yang cukup serius dalam komunikasi, yakni menganggap orang lain pasti memahami isi hatinya. Sebelum kita menganggap orang lain sudah menangkap maksud kita, kita perlu mengecek ulang, apakah benar ia sudah memahami pembicaraan kita. Gaya komunikasi seperti ini acap kali membuahkan kekecewaan dan bahkan kemarahan.
• Gaya 2: Si Sepenggal
• Orang ini berpikir, “Bukankah sudah saya katakan semuanya itu?!” namun sesungguhnya yang terjadi adalah ia memang belum mengemukakan seluruh pikirannya — baru sepenggal saja. Sewaktu kita berbicara, kecepatan pikiran kita bergerak dari satu topik ke topik yang lainnya tidaklah sama dengan kecepatan lidah kita mengungkapkan isi pikiran itu sendiri. Bagi Si Sepenggal, pikirannya bergerak telalu cepat atau lidahnya terlalu lamban sehingga maksud hatinya tidak tertuang sepenuhnya melalui bahasa ucapan. Masalahnya ialah, ia tidak menyadari hal ini, sehingga dalam benaknya, ia sudah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan. Si Sepenggal rentan terhadap frustasi karena komunikasinya menjadi terpotong-potong dan sudah tentu, membuka pintu terhadap kesalah pahaman
• Gaya 3: Si Peremeh
• Ucapan Si Peremeh pada umumnya ditandai dengan kalimat sejenis ini, “Kenapa tidak mengerti-mengerti?” atau “Memang bodoh kamu!” Si Peremeh memiliki satu masalah yang lumayan serius yakni ia memperlakukan semua orang sama seperti dirinya. Alhasil, apabila orang lain tidak bisa mengikuti kemauan atau pikirannya, ia pun marah. Sewaktu marah, bukannya ia melihat bahwa memang orang lain berbeda dengannya, ia justru memandang perbedaan sebagai kekurangan di pihak orang lain. Gaya komunikasi ini cenderung merusakkan hubungan dengan orang lain. Siapa saja yang pernah disakitinya akan menjaga jarak karena tidak mau terluka lagi.
• Gaya 4: Si Penyenang
• Si Penyenang mempunyai satu misi dalam hidupnya, yakni menyenangkan hati semua orang. Akibatnya, tema seperti ini sering keluar dari bibirnya, “Saya akan lakukan apa saja bagimu asal kamu bahagia.” Bicara dengan Si Penyenang memang bisa menyenangkan karena ia akan mengangguk-angguk saja, namun biasanya gaya komunikasi ini dapat mendangkalkan relasi pribadi. Sukar sekali untuk mengetahui hati Si Penyenang karena ia tidak terbuka. Ketidakterbukaannya itu juga cenderung membuatnya menumpuk semua perasaan dalam hati. Kalau tidak tertahankan, ia mudah menjadi orang tertekan dan tidak bahagia.
• Gaya 5: Si Pelupa
• Kita bisa lupa dan adakalanya sengaja melupakan peristiwa tertentu. Malangnya, Si Pelupa lupa dan melupakan terlalu banyak hal dan frekuensinya terlalu sering. Ia acap kali berujar, “Tidak, saya tidak mengatakan hal itu.” Namun kenyataannya ialah ia mengatakan hal tersebut. Baik lupa atau melupakan informasi yang akhirnya dibutuhkan oleh orang lain cenderung melemahkan kepercayaan orang pada dirinya sendiri. Orang lain dapat membentuk anggapan bahwa Si Pelupa meremehkan atau bisa juga, orang lain menilai bahwa Si Pelupa tidak tulus. Ini bahaya! Komunikasi sangat bergantung pada kepercayaan; tanpa itu, yang mendengar adalah suara belaka.
• Gaya 6: Si Pendebat
• Repot juga berkomunikasi dengan Si Pendebat karena pembicaraan dengannya cenderung menjadi arena balapan kebenaran. Perhatikan kata- kata yang biasanya keluar dari mulutnya, “Apa benar saya berkata demikian? Apa kamu yakin? Bagaimana dengan dirimu sendiri?” Si Pendebat kaya dengan kata-kata dan gaya berkomunikasinya mirip dengan taktik menyerbu orang lain dengan bombardemen kata-kata. Si Pendebat cenderung melemparkan fokus masalah ke pihak lawannya sehingga ia bebas dari kesulitan. Gaya komunikasi ini bisa menimbulkan rasa tidak suka dan jenuh pada orang lain karena bicara dengannya membuat diri merasa diserang. Lebih jauh lagi, Si Pendebat akhirnya membuat orang beranggapan bahwa ia senantiasa mengelak dari tanggung jawabnya.
• Gaya 7: Si Talenan
• Rasa iba, kasihan, simpati adalah beberapa kata yang sering diasosiasikan dengan Si Talenan karena perasaan-perasaan seperti itulah yang timbul tatkala melihatnya. Si Talenan selalu menyediakan dirinya menjadi sasaran tudingan orang lain tanpa benar-benar menyadari di mana letak kesalahannya (kalau memang ada). Ucapan seperti ini cenderung muncul dari bibirnya, “Betul, memang saya yang salah dan sudah sepantasnya dimarahi.” Masalahnya ialah, ia melakukan itu karena tidak berani atau berkekuatan memperhadapkan orang lain dengan kebenaran. Ia tidak suka keributan dan baginya silang pendapat tidaklah bijaksana, jadi, harus dihindarkan. Gaya komunikasi ini sangat merugikan dirinya dan bisa mengundang penghinaan dari orang lain. Orang lain semakin berani berbuat sekehendak hatinya tanpa mempedulikan perasaannya. Namun, bukankah ia jugalah yang memulainya?
• Dari penjelasan di atas kita melihat bahwa gaya komunikasi dapat memancarkan kepribadian kita yang sesungguhnya, namun bisa pula merupakan gaya yang dipelajari. Adakalanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain, kita terpaksa mengikuti gaya komunikasi yang tertentu. Atau kita belajar dari keluarga kita sendiri sehingga kita menganggap gaya komunikasi kita dipahami semua orang, alias universal. Jika gaya komunikasi kita memang merupakan buah kepribadian sendiri, sudah tentu perlu koreksi. Obat penawarnya ada beberapa, misalnya meminta tanggapan orang lain. Mungkin kita dapat memeriksa ucapan-ucapan kita dengan lebih teliti dan menanyakan, apa kira-kira yang orang lain rasakan (bukan kita, sebab kalau kita, mungkin sekali kita tak merasa apa-apa karena sudah terbiasa) tatkala mendengar kata-kata kita. Kita rela membayar mahal dan menanamkan waktu yang panjang untuk pendidikan kita; ironisnya, kita sering tidak bersedia membayar mahal untuk belajar menyehatkan gaya komunikasi kita. Memang, adakalanya hal yang penting tampaknya sederhana.
Tujuan Komunikasi
Menciptakan hubungan yang baik antara komunikator dengan komunikasi guna mendorong komunikan agar mampu meredakan segala ketegangan, emosinya dan memahami dirinya.
Elemen-elemen konsep diri
Konsep diri
Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.
Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.
Karakteristik sosial
Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal hal ini mempengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.
Peran sosial
Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah, istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik, atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai ‘diri’ sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).
Identitas diri yang berbeda
Identitas berbeda atatu multiple selves adalah seseorang kala ia melakukan erbagai aktifitas, kepentingan, dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antar pribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita.
• Pertama persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (meta persepsi).
• Identitas berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang ‘diri ideal’ kita, yaitu saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita ‘sebenarnya’ dan bagian lain memperlihatkan kita ingin ‘menjadi apa’ (idealisasi diri)
Contohnya saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia idealkan.
Proses pengembangan kesadaran diri
Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui tiga cara, yaitu;
• Cermin diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.
• Pribadi sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat seseorang beraktifitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan
Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan mempengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya, karena itulah seseorang yang pesimis akan menyerah lebih mudah.
• Perwujudan diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self) perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktifitas serhari hari kita. Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep diri kita terbentuk, teori akan siapa kita akan menjadi lebih stabil dan sulit untuk dirubah secara drastis.
Contoh, bila kita mencoba merubah pendapat orang tua kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus dirubah – biasanya ini merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan ‘siapa saya’ tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita.
Johari Window
Johari Window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN.
• – Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. (Quadrant 1, the open quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self and others)
– Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri. (Quadrant 2, the blind quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to others but not to self)
• Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. (Quadrant 3, the hidden quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self but not to others
• – Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. (Quadrant 4, the unknown quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known neither to self nor others)
• Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.
Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy
• Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan
• Luft menawarkan beberapa saran untuk meningkatkan self-awareness kita:
• – Threat tends to decrease awareness; mutual trust tends to increase awareness
– Forced awareness (exposure) is undesirable and usually innefective
– Interpersonal learning means a change has taken place so that Quadrant 1 is larger, and one or more of the other quadrants has grown smaller
– Sensitivity means appreciating the covert aspects of behavior, in Quadrants 2, 3, and 4 and respecting the desire of others to keep them so (Joseph Luft, Of Human Interaction (Palo Alto, CA: Mayfield, 1969)
• Siapakah aku
Mengenali dan Memahami Diri
Dalam bidang psikologi terdapat suatu teori yang boleh membantu kita memahami siapa diri kita. Teori itu disebut Jendela Johari. Nama Johari adalah gabungan nama dua orang pakar yang mencipta teori itu, Joseph Luft dan Harry Ingham.
Jendela Johari: Siapakah Aku?
Jendela Diri Yang Terbuka
Jendela ini melambangkan semua informasi, sikap, perasaan, keinginan, dorongan dan ide-ide kita yang kita sendiri ketahui dan diketahui juga oleh orang-orang lain. Antara maklumat itu adalah nama kita, rupa paras kita, agama kita, bangsa, pendidikan, kegemaran, agama dan pendirian politik kita.Ada kalanya jendela ini kita buka luas oleh itu kita dengan sukarela mendedahkan banyak maklumat tentang siapa diri kita.
Ada kalanya kita tidak mau membuka jendela ini dengan luas, jadi kita banyak merahsiakan perihal pribadi kita. Sejauh mana kita sanggup membuka jendela ini ada kesannya pada sejauh mana orang lain sanggup menerima kita. Semakin banyak kita membuka perihal diri kita, semakin mudah bagi orang lain menerima kehadiran diri kita.
• Jendela Diri Yang Buta
Jendela ini melambangkan segala macam perihal tentang diri kita yang diketahui oleh orang-orang lain tetapi kita sendiri tidak tahu. Antara perihal diri kita yang kita tidak ketahui adalah perangai-perangai ganjil kita, bau badan kita yang busuk, sifat kita yang gagap apabila gugup dan lain-lain.Orang lain mungkin tahu tabiat dan sifat kita yang baik ataupun buruk yang kita tidak sedari ada pada kita. Sesetengah orang sangat ‘buta’ tentang dirinya sendiri. Ada kalanya kita takut hendak mendengar pendapat orang lain berkenaan diri kita, kecuali yang baik-baik saja. Sesetengah orang sangat ingin tahu siapa diri mereka yang sebenarnya dan sentiasa maklum atas pendapat orang di sekeliling mereka.Ada kalanya kita dapat menerima kenyataan apabila menerima kritikan pribadi daripada orang lain. Ada orang tidak dapat menerima kritikan seperti itu dan mereka mengalami kejutan dahsyat. Oleh karena itu, walaupun kita tahu banyak berkenaan orang-orang lain, kita tidak boleh mengumbar kepada mereka segala apa yang kita tahu. Mereka mungkin akan mengalami kesan negatif atas apa yang kita beritahukan
• Jendela Diri Yang Tersembunyi
• Jendela ini adalah lambang segala perihal tentang diri kita yang kita sendiri tahu tapi kita tidak ingin orang lain tahu. Ia adalah diri kita yang kita rahasiakan. Ada orang yang suka memberitahu segala macam perihal berkenaan diri mereka kepada orang lain. Ada orang, kalau boleh, langsung tidak mau siapa pun tahu apa-apa berkenaan diri mereka. Mereka akan bercakap-cakap berkenaan bermacam-macam perkara di dunia ini, kecuali berkenaan diri mereka sendiri.Ada orang yang tidak segan untuk selalu menceritakan segala hal berkenaan diri mereka termasuk masalah rumah tangga, anak-anak, pekerjaan, uang dan apa-apa saja. Lazimnya kita memilih-milih perihal peribadi yang sanggup kita buka kepada orang-orang lain, dan kita juga memilih-milih kepada siapa hal itu sanggup kita utarakan.
• Jendela Diri Yang Tak Diketahui
• Jendela ini adalah lambang siapa sebenarnya diri kita, tetapi kita tidak tahu dan orang-orang lain pun tidak tahu. Kalau kita tidak tahu dan orang-orang lain pun tidak tahu, bagaimanakah kita tahu bahawa diri kita itu ada? Kita tahu ia ada dari beberapa sumber. Pertama, dari saat apabila kita akan menyedari beberapa perkara baru tentang diri kita yang tidak pernah kita katakan sebelumnya.Sumber kedua adalah mimpi-mimpi yang kita alami. Sumber ketiga adalah melalui ujian-ujian projektif yang boleh kita ambil di bawah pengawasan pakar-pakar psikologi.Anggapan kita terhadap diri kita sendiri sentiasa berubah-ubah daripada masa ke masa. Ada kalanya perubahan itu berlaku perlahan-lahan, ada kalanya ia berlaku dengan mendadak dan drastik sekali.
• Cara Mengenali Diri Sendiri
• Mengetahui siapa diri kita sebenarnya mempunyai kesan ke atas kesuksesan di tempat kerja dan dalam kehidupan. Individu-individu yang memahami sifat-sifat, kekuatan dan kelemahan dirinya didapati lebih sukses dalam kerjanya dan kehidupan mereka. Semakin betul kefahaman seseorang itu tentang dirinya, semakin tinggi kesuksesan yang dapat dicapainya. Ini adalah salah satu daripada ciri-ciri psikologi yang membedakan para eksekutif yang sukses.
• Individu-individu yang gagal dalam kehidupannya mempunyai konsep diri yang negatif ataupun di mana konsep dirinya tidak selaras dengan kenyataan disebabkan mereka tidak bersikap terbuka untuk memaklumi feedback dari orang-orang yang berinteraksi dengan mereka, terutamanya apabila feedback itu berupa kritikan. Itulah sebabnya mereka yang tidak dapat menerima kritikan dan teguran tidak dapat mencapai peringkat tinggi dalam jawatannya.
• Ada beberapa cara yang boleh kita lakukan supaya kita lebih kenal diri kita sendiri. Cara yang pertama adalah dengan mendengar apa yang orang-orang lain kata berkenaan diri kita. Dengan cara ini kita dapat melihat diri kita daripada sudut pandangan orang lain.
• Kita dapat melihat diri kita sebagaimana yang orang lain melihatnya, yaitu sebagaimana yang mereka nampak dan kenali diri kita. Biasanya kita mau orang lain melihat diri kita seperti yang kita sendiri mahu lihat, yaitu yang positif saja.
• Apa saja yang kita buat dan katakan sentiasa dinilai oleh orang lain. Ada kalanya mereka menyatakan pendapat mereka berkenaan diri kita. Kadang-kadang mereka mengatakan dengan jelas dan berterus terang, tetapi ada kalanya mereka menyatakannya dengan cara yang halus dan tersirat. Dengan memberi perhatian dan bersikap terbuka terhadap segala pendapat orang lain berkenaan diri dan segala perbuatan kita, kita dapat mengenal diri kita sendiri dengan lebih baik lagi.
• Cara kedua adalah dengan sengaja mencari hal-hal tambahan berkenaan diri sendiri. Kita boleh meminta pendapat orang-orang di sekeliling kita berkenaan apa yang kita perbuat.
• LATAR BELAKANG MASALAH
• Komunikasi antar pribadi merupakan aspek yang sangat penting dalam teori komunikasi, oleh sebab itu perlu diadakan studi lebih lanjut tentang cara yang terbaik untuk memanfaatkannya, penulis mencoba menganalisa salah satu teori tentang konsep diri diri yang berkaitan dengan komunikasi antar pribadi untuk menciptakan komunikasi yang lebih baik.
Konsep diri merupakan Faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia.
• Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah ter-install akan masuk di pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian pula sebaliknya.
Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya.
Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positip, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.
• PERMASALAHAN
• Diatas kita agak banyak membicarakan konsep diri Positif, karena dari konsep diri positif lahir pula pola perilaku komunikasi antar pribadi yang positip pula yakni melakukan persepsi yg lebih cermat dan mengungkapkan petunjuk-petunjuk yang membuat orang-lain menafsirkan kita dengan cermat pula. Komunikan yang berkonsep diri positip adalah Komunikan yg Tembus Pandang1 ( transparent ).Dengan bersikap Tembus Pandang berarti kita membuka diri, kita menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman-pengalaman gagasan-gagasan baru, lebih cenderung menghindari sikap defensif serta lebih cermat dalam memandang dan menilai diri kita sendiri juga orang lain.
Hubungan antara Konsep diri dan membuka diri dapat dijelaskan dengan Johari Window. Dalam Johari Window tingkat keterbukaan dan tingkat kesadaran tentang diri kita.

• JOHARI WINDOW ( JENDELA JOHARI )
• Joseph Luft dan Harrington Ingham , mengembangkan konsep Johari Window sebagai perwujudan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain yang digambarkan sebagai sebuah jendela. ‘Jendela’ tersebut terdiri dari matrik 4 sel, masing-masing sel menunjukkan daerah self (diri) baik yang terbuka maupun yang disembunyikan. Keempat sel tersebut adalah daerah publik, daerah buta, daerah tersembunyi, dan daerah yang tidak disadari. Berikut ini disajikan gambar ke 4 sel tersebut.

• Open area adalah informasi tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status perkawinan, lulusan mana, dll. Ketika memulai sebuah hubungan, kita akan menginformasikan sesuatu yang ringan tentang diri kita. Makin lama maka informasi tentang diri kita akan terus bertambah secara vertical sehingga mengurangi hidden area. Makin besar open area, makin produktif dan menguntungkan hubungan interpersonal kita.
• Hidden area berisi informasi yang kita tahu tentang diri kita tapi tertutup bagi orang lain. Informasi ini meliputi perhatian kita mengenai atasan, pekerjaan, keuangan, keluarga, kesehatan, dll. Dengan tidak berbagi mengenai hidden area, biasanya akan menjadi penghambat dalam berhubungan. Hal ini akan membuat orang lain miskomunikasi tentang kita, yang kalau dalam hubungan kerja akan mengurangi tingkat kepercayaan orang
• Blind area yang menentukan bahwa orang lain sadar akan sesuatu tapi kita tidak. Misalnya bagaimana cara mengurangi grogi, bagaimana caranya menghadapi dosen A, dll. Sehingga dengan mendapatkan masukan dari orang lain, blind area akan berkurang. Makin kita memahami kekuatan dan kelemahan diri kita yang diketahui orang lain, maka akan bagus dalam bekerja tim.
• Unknown area adalah informasi yang orang lain dan juga kita tidak mengetahuinya. Sampai kita dapat pengalaman tentang sesuatu hal atau orang lain melihat sesuatu akan diri kita bagaimana kita bertingkah laku atau berperasaan. Misalnya ketika pertama kali seneng sama orang lain selain anggota keluarga kita. Kita tidak pernah
• bisa mengatakan perasaan “cinta”. Jendela ini akan mengecil sehubungan kita tumbuh dewasa, mulai mengembangkan diri atau belajar dari pengalaman
• Yang dimaksud dengan daerah publik adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain. Daerah buta adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui oleh dirinya. Dalam berhubungan interpersonal, orang ini lebih memahami orang lain tetapi tidak mampu memahami tentang diri, sehingga orang ini seringkali menyinggung perasaan orang lain dengan tidak sengaja. Daerah tersembunyi adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Dalam daerah ini, orang menyembunyikan/menutup dirinya. Informasi tentang dirinya disimpan rapat-rapat. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang direpres dalam ketidaksadaran, yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
• Dalam daerah ini, orang menyembunyikan/menutup dirinya. Informasi tentang dirinya disimpan rapat-rapat. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang direpres dalam ketidaksadaran, yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Namun demikian ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul. Oleh karena adanya perbedaan individual, maka besarnya masing-masing daerah pada seseorang berbeda dengan orang lain. Gambaran kepribadian di bawah ini dapat memberikan contoh mengenai daerah-daerah dalam Jendela Johari.

• Pengenalan diri dapat dilakukan melalui 2 tahap, tahap yang pertama pengungkapan diri (self-disclosure) dan tahap yang kedua menerima umpan balik ( Feedback ). Tahap pengungkapan diri, orang memperluas daerah C (lihat gambar 2), sedangkan untuk memperluas daerah B dibutuhkan umpan balik dari orang lain (lihat gambar 3). Akhirnya, ia akan mempunyai daerah publik (A) yang semakin luas (lihat gambar
KASUS
• Dian, gadis pemalu, ia selalu sulit menjalin pergaulan. Sangat jarang ia dapat menceritakan perasaan, keinginan, dan fikiran-fikiran yang ada pada dirinya. Akibatnya, ia kurang dikenal oleh teman sepergaulannya.
• Kemungkinan besar, Dian mempunyai daerah publik (A) yang kecil, sedangkan daerah yang tersembunyi lebih besar (C) atau Siti mempunyai daerah buta yang lebih besar (B), sebab kelebihan yang merupakan aset bagi dirinya tidak disadarinya atau dilihat orang lain.Semakin luas daerah A dapat dikatakan seseorang mempunyai konsep diri yang positif. Ia telah tahu, baik dalam kuantitas maupun kualitas, kekuatan dan kelemahan dirinya. Orang semakin bebas untuk menentukan langkahnya, topeng-topeng yang dipakainya semakin terkuak dan ditinggalkannya. Ia menjadi pribadi yang matang, percaya diri, tidak takut menghadapi kegagalan, dan siap mengahadapi tantangan.
KESIMPULAN
Setelah seseorang melakukan upaya mengenali kekuatan dan kelemahan diri, orang lain akan menyadari siapa saya? Mengenal diri bukanlah tujuan. Pengenalan diri adalah sebagai wahana (sarana) untuk mencapai tujuan hidup. Oleh karenanya, setelah seseorang dapat menjawab pertanyaan siapa saya? maka pertanyaan selanjutnya adalah saya ingin menjadi siapa? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya beragam, sesuai dengan peran-peran yang dimainkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengembangkan diri
KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Dasar-dasar Komunikasi Teraupetik
A. Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi Adalah Proses penyampaian pesan atau berita dari seseorang keorang lain sehingga antara kedua belah pihak terjadi adanya saling pengertian.Terapi Adalah Suatu penyembuhan.
Komunikasi Terapeutik Adalah suatu proses penyampaian nasehat kepada pasien untuk upaya penyembuhan. Seorang bidan / perawat terlebih dahulu menyampaikan ide dan pikirannya, sehingga orang yang dirawatnya itu memahami apa yang dilakukan olehnya.
Komunikasi Terapeutik biasanya dilakukan dengan Lisan (dialog antara perawat dan pasien) atau dengan gerak (gerak tangan, ekspresi wajah dan sebagainya.
Melalui komunikasi ini, perawat dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada pasien dan kemudian ia dapat mengetahui pikiran dan perasaan pasien terhadap penyakit yang diderita dan juga sikap prilaku pasien terhadap dirinya sendirinya.Dengan demikian segala tindakan perawat disepakati oleh pasien, dan pasien itu sendiri ikut membantu segala upaya penyembuhan yang dilakukan terhadapnya Bila dilakukan tindakan terhadap pasien tanpa diberi penjelasan lebih dahulu, pendapat pasien tidak diminta atau sebaliknya pasien menyembunyikan perasaannya maka upaya penyem.buhan akan kurang berhasil.
B. Tujuan Komunikasi Teraupetik.
Komunikasi teraupetik bertujuan untuk menciptakan hubungan yang baik antara perawat dengan pasien guna mendorong pasien agar mampu meredakan segala ketegangan emosi dan memahami dirinya serta mendukung tindakan konstruktif (membangun) terhadap kesehatannya dalam rangka mencapai kesembuhan
Didalam upaya perawatan dan penyembuhan, hubungan erat antara perawat dengan pasien diperlukan agar tindakan yang dilakukan terhadap pasien didasarkan atas kesepakatan bersama.Hubungan batin antara perawat dan pasien perlu dikembangkan dengan baik. Pada hakikatnya Komunikasi Teraupetik mengutamakan hubungan batin.Upaya yang dilakukan oleh perawat sebaiknya tidak hanya diakhiri oleh penyembuhan saja, akan tetapi diikuti rasa kepercayaan diantara kedua belah pihak atas tindakan pelayanan yang dilakukan
Jenis – jenis Komunikasi
Secara umum komunikasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Verbal dan Non Verbal.
Komunikasi Verbal menggunakan kata-kata dalam bentuk lisan atau tulisan. Sedangkan komunikasi Non Verbal menggunakan bentuk lain seperti sikap dan gerakan atau ekspresi wajah.
Didalam praktek, kedua jenis komunikasi ini selalu timbul bersama. Misalnya, bila perawat memberi penjelasan kepada pasiennya tidak hanya dilakukan dengan kata-kata akan tetapi juga diikuti oleh gerak tangan dan ekspresi wajah.
Sehubungan dengan pmbahasan diatas, Jenis Komunikasi dapat dibedakan menjadi
1. Komunikasi Verbal
Komunikasi ini sangat tergantung dengan kata-kata yang dipergunakan, sehingga perawat dengan pasien keduanya akan dapat memahami informasi apabila kata-kata yang dipergunakan dapat dipahami.
Kata-kata atau bahasa yang digunakan dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya, ekonomi, umur dan pendidikan.

Dalam menggunakan suara ada tujuh pokok tentang suara yang perlu diperhatikan :
a. Gema suara
b. Irama
c. Kecepatan
d. Ketinggian
e. Besar / Volume
f. Naik Turunnya
g . Kejelasan
Suara tersebut dapat menggambarkan semangat, antusias, kesedihan, kejengkelan atau kegirangan.
Misalnya : Ucapan “Selamat pagi” dalam bentuk irama yang berbeda menunjukan perasaan dari pengucapknya.
2. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi Non Verbal tanpa mempergunakan bahasa kata-kata. Komunikasi non verbal ini disebut juga bahasa tubuh. Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi non verbal lebih banyak dilakukan. Bila dibandingkan dengan komunikasi verbal, komunikasi non verbal kurang terkontrol sehingga dapat timbul tanpa disadari.
Observassi terhadap prilaku non verbal pasien perlu dilakukan, karena hal ini sangat berguna untuk mengetahui sikap pasien dan memudahkan mengambil tindakan perawatan dan pengobatan. Hendaklah kita memperhatikan prilaku nonverbal kita sendiri dalam berkomunikasi dengan pasien, karena pasien akan selalu memperhatikannya.
Komunikasi nonverbal mempergunakan hal-hal sebagai berikut :
a. Ekspresi wajah
b. Gerak mata
c. Gerak tubuh, tangan, lengan dan kaki
d. Sikap tubuh waktu duduk atau berjalan
e. Sentuhan tangan
f. Isyarat-isyarat
g. Gabungan-gabungan dari gerak gerik tubuh
Dalam praktek sehari-hari komunikasi verbal dan non verbal dilaksanakan secara bersama-sama dan saling mendukung. Misalnya Seorang pasien mengatakan “Saya cukup senang disini”. Ditambah dengan ekspresi wajah gembira.kedua jenis komunikasi itu dapat juga berlawanan. Misalnnya Si pasien mengatakan “Saya tidak memikirkan apa-apa”. Ekspresi wajahnya menunjukan kesedihan dan bibirnya bergetar.
. Komponen-komponen Komunikasi
Komunikasi teraupetik seperti komunikasi pada umumnya dibagi atas 4 komponen yaitu :
– Pemberi pesan
– Pesan
– Penerima pesan
– Umpan balik / Feed back
Dalam bentuk yang sederhana didalam komunikasi terjadi proses dua arah. Pengirim menyampaikan pesannya Kepenerima kemudian Sipenerima memberikan respon kepada pengirim.
Komponen-komponen komunikasi sebagai berikut :
1. Pemberi pesan ( Komunikator )
Dalam menyampaikan pesan hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Pesan yang akan disampaikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
b. Pesan yang disampaikan harus mempergunakan bahasa yang dapat dimengerti dengan mudah oleh pasien.
c. Diusahakan supaya pesan yang disampaikan dapat menarik minat pasien.
2. Pesan yang disampaikan
Komponen kedua dari komunikasi adalah pesan. Didalam komunikasi teraupetik pesan yang disampaikan berupa : nasehat, dorongan, bimbingan, informasi pearwatan, petunjuk dan sebagainya.
Pesan dapat disampaikan dalam bentuk lisan atau nonverbal (bahasa tubuh) yang mengikuti bentuk lisan.
Pesan dapat disampaikan melalui media seperti tulisan, telepon, radio atau televisi. Komunikasi tatap muka lebih efektif didalam komunikasi teraupetik bila dibandingkan dengan menggunakan media.tidak langsung. Perawat yang langsung memberi informasi atau pesan kepada pasien disebut Komunikasi langsung.

3. Penerima Pesan
Penerima pesan disebut juga sebagai Komunikan.Penerima pesan dalam komunikasi teraupetik adalah Pasien. Pasien (sebagai penerima pesan) menerima nasehat (pesan) dari perawat (pemberi pesan). Nasehat tersebut dianalisa oleh pasien, kemudian diinterprestasinya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki pasien itu sendiri. Kadar penerima nasehat yang disampaikan tergantung kepada pengalaman dan pengetahuan pasien itu sendiri.
Misalnya seorang perawat memberikan nasehat kepada pasien untuk menelan pil vitamin, nasehat itu akan diterima sepenuhnya oleh pasien bila ia berpengalaman menelan pil vitamin atau ia tahu akan manfaatnya.
4. Umpan balik ( Feed back )
Umpan balik dalam komunikasi teraupetik adalah respon yang diberikan oleh pasien terhadap pesan yang diterimanya.Umpan balik ini berguna untuk mengukur besar informasi yang diserap oleh komunikasi dibandingkan dengan yang diberikan. Respon yang diberikan oleh pasien dapat positif atau negatif. Dalam komunikasi nonverbal pasien menunjukan respon positif bila ia sungguh-sungguh mendengar nasehat perawat. Dan sebaliknya mungkin tidak tertarik akan nasehat itu yang ditunjukkan dengan menguap.
Kekacauan – kekacauan yang terjadi dalam komunikasi
Proses komunikasi antara perawat dengan pasien, tidak selamanya berjalan dengan mulus dan berfungsi secara optimal, tetapi mungkin akan terjadi kekacauan yang disebut dengan istilah distorsi.
Terjadinya distorsi dalam proses komunikasi antara perawat dengan pasien dapat disebabkan karena :
1. Pasien kurang tepat mempersepsinkan pesan, bimbingan, dorongan yang diberikan oleh pasien. Hal ini disebabkan karena hal-hal sebagai berikut :
. Pasien merasa cemas karena penyakit yang dideritanya.
. Pikiran pasien dipengaruhi oleh faktor luar misalnya
memikirkan keadaan keluarga, rumah dll
. Hubungan antara perawat dengan pasien kurang bersahabat
2. Kekurangan yang dimiliki oleh perawat dalam mengadakan komunikasi dengan pasien yang disebabkan karena :
a. Kurang pandai mengemukakan buah pikirannya
b. Bicaranya kurang jelas, atau terlalu cepat.
c. Bahasa yang digunakan tidak dapat dimengerti oleh pasien
3. Kebisingan ( Noise)
Kebisingan dapat menganggu komunikasi. Kebisingan mungkin muncul pada saat seorang perawat berkomunikasi dengan pasien dalam bentuk :
a. Rintihan atau tangis pasien
b. Suara air gemericik di wastafel atau di kamar mandi
c. Suara brankar untuk mendorong passien
d. Suara antar pasien yang sedang bergurau, dll.
Upaya meningkatkan kadar komunikatifnya komunikasi
Komunikatif tidaknya komunikasi teraupetik itu amat tergantung dari dua pihak yaitu : Pihak Komunikator (perawat) dan pihak Komunikan (pasie).
Beberapa usah dilakukan untuk meningkatkan komunikatifnya komunikasi seperti berikut :
1. Komunikator
a. Amat tergantung dari kecakapan Komunikator dalam melaksanakan komunikasi, yaitu komunikator harus menguasai metode/cara menyampaikan pesan, baik secara verbal dan non verbal.
Perawat sebagai komunikatoor, harus bersikap tegas, penuh penerimaan, penuh penghargaan dan jangan menunjukann kesombongan, ragu dan menunjukan ketidakk percayaan dihadapan pasien.
bPerawat harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi selama melakukan komunikasi.
d. Jangan melaksanakan budaya sendiri dalam mengadakan komuniaksi dengan pasien.
e. Pesan yang disampaikan supaya diulang agar dapat ditangkap oleh komunikan dengan cara :
– Mungulang pengertian—pengertian pokok
– Mengemukakan ide-ide yang sulit dengan kalimat-kalimat yang berbeda
– Memberikan alasan atau penjelasaan yang lebih luas bila sikap pasien menunjukkan kurang mengerti.
2. Komunikasi
Terhadap komunikasi atau pasien upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Pasien atau komunikan diupayakan seluruh pesan yang disampaikan oleh perawat baik secara verbal maupun nonverbal.
b. Sikap/rasa curiga, rasa acuh tak acuh, rasa tidak senang terhadap komunikator harus dihilangkan.
c. Pengalaman pasien berpengaruh terhapad proses komikasi, oleh karena itu perlu diperlihatkan.
d. Pasien mempunyai kelainan pancaindra terutama panca indra mata, telinga dan perasaan, mendapat hambatan dalam berkomunikasi oleh karena itu harus dicara tehnik yang dapat mengurangi hambatan tersebut.
e. Jarak antara perawat dengan pasien pada waktu berkomunikasi harus tidak terlalu jauh atau terlalu dekat (jarak 0,4 – 1,2 meter).
f. Pasien diupayakan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan perawatan.
Fase dan Tehnik Komunikai Terapeutik
A. Fase-fase yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan efektifitas komunikasi terapeutik
Untuk meningkatkan efektifitas komunikasi teraupetik, perawat harus memperhatikan beberapa fase guna mencapai kesuksesan dalam mengadakan komukasi teraupetik. Fase-fase yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Fase sebelum interaksi
Sebelum berlangsungnya interaksi, seorang perawat harus memiliki data lengkap tentang pasien.
Fase-fasenya adalah :
a. Nama Pasien
b. Alamat Pasien
c. Umur Pasien
d. Pendidikannya

e. Riwayat Pasien khususnya riwayat penyakit dan pengobatannya yang pernah didapatkan
f. Riwayat Sosialnya
g. Riwayat Keluarganya

2. Fase Pendahuluan
Fase ini merupakan fase orientasi, dan dalam fase ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu :

a. Persiapan membuka hubungan dengan pasien
Memulai atau membuka hubungan dengan pasien merupakan hal yang sangat penting dan amat menentukan kelangsungan dan keberhasilan pembicaraan selanjutnya. Oleh karena itu, membuka wawancara dengan pasien harus dilakukan secara hati-hati.
Jika yang memulai pembicaraan adalah perawat, maka ia harus memberikan penjelasan sejelas-jelasnya mengenai apa yang akan dibicarakan dan apa maksuddnya.
Apabila yang memulai adalah pasien sendiri perawat harus mampu membantu pasien mengungkapkan apa yang dirasakan, dan perawat harus menunjukan sikap rela membantu, kesabaran yang tulus, rileks, sikap menerima secara sungguh-sungguh, membuka hati pasien dengan menuntunnya mengorganisasikan perasaan serta pikirannya sehingga pasien tidak menaruh prasangka yang negatif kepada perawat.
Contoh :
Pasien : Maaf Ibu perawat, saya kurang mengerti, apakah ada kelainan didalam diri saya ?
Perawat : Pertanyaan ibu bagus sekali. Sebenarnya sayapun ingin menyampaikan hal itu kepada ibu. Nah agar lebih jelas dapatkah ibu menceritakan kembali kepada saya, apa yang ibu rasakan selama ini.
b. Menjelaskan masalahnya
Pasien kadang-kadang tidak mempunyai inisiatif menjelaskan masalah yang dihadapinya.
Untuk membantu menjelaskan masalahnya, perawat harus menggunakan tehnik yang tepat, seperti mendengarkan dengan baik, mengulang kembali kata-kata yang diucapkan pasien, menjelaskan perasaan pasien.

Contoh :
Perawat : Seperti apa yang telah ibu sampaikan kepada saya, bahwa mulai kemarin frekuensi kencing ibu meningkat. Ibu tidak perlu takut. Itu disebabkan oleh pengaruh obat untuk mengurangi pembengkakan (udim) pada kaki ibu.
c. Menjelaskan prosedur wawancara dan merumuskan perjanjian
Dalam hal ini perawat perlu menjelaskan, kapan ia akan menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan pasien atau kapan pasien berbincang-bincang dengan perawat.

Contoh :
Pasien : Ibu perawat, dapatkah ibu membantu saya dan suami saya untuk memberi penjelasan mengenai penyakit saya ?
Perawat : Bu, dengan senang hati kapankah ibu dan suami ibu bersedia untuk membicarakannya?
3. Fase Pelaksanaan
Dalam fase pelaksanaan ini ada 3 kegiatan yaitu :
a. Menanggapi dan menjelajahi hati pasien
Dalam fase ini empati perlu dipertahankan dan dikembangkan
selama wawancara dengan pasien masih berlangsung.
Perawat harus aktiif untuk berusaha membantu pasien
membangkitkan atau memunculkan perasaan, pikiran dan
tindakannya.
Perawat dalam memberikan tanggapan dan menjelajahi hati pasien, diharapkan dapat menunjukan :
1. Empati : “Dalam berkomunikasi, memberi tanggapan, mendengarkan apa yang pasien katakan, dan dirasakan pasien”
2. Rasa Hormat dan keinginan/hasrat yang tinggi untuk membantu pasien
3. Keahlian/kemampuan sebagai pasien yang harus mampu baik
menjelaskan maupun memberikan petunjuk secara teoriitis
4. Menunjukan kejelasan/konkrit
Contoh :
Pasien : Maaf bu perawat saya selalu mengganggu kesibukan Ibu perawat dan saya ini bodoh tidak bisa mengemukakan perasaan saya yang sehubungan dengan penyakit saya.
Perawat : Tidak apa-apa bu, itu memang tugas dan tanggungjawab saya sebagai perawat untuk membantu ibu, Adakah yang ingin ibu tanyakan kepada saya ? Silahkan! Ibu sebenarnya tidak bodoh, hanya yang diucapkan kurang tepat sewaktu ibu menjelaskan kepada saya.
b. Mengintegrasikan dan mendinamiskan pemahaman pasien terhadap dirinya.
Dalam kegiatan ini perawat harus mampu membangkitkan semangat pasien agar ia dapat meningkatkan pemahaman terhadap dirinya, mampu dan mau mengungkapkan perasaan-perasaan yang selama ini terpendam.
Perawat membantu pasien menerima keadaan dirinya, merubah pikiran dan tindakannya, serta membimbing-nya untuk mengambil jalan pemecahan masalahh yang dideritanya sesuai dengan kemampuannya.
C.Sebagai fasilitator dan membantu menentukan tindakan

Setelah pasien mengungkapkan segala masalah yang dia alami dan segala perasaan dan pikirannya yang mengganggu,maka pada akhirnya pasen harus mampu membuat keputusan sendiri untuk menyelesaikannya.Disamping itu pasien harus mampu pula menyusun rencana tindakan yang paling sesuai dengan kemampuan pasien.
Contoh :
Perawat : “Bu tadi dokter dan saya telah menjelaskan tentang kondisi ibu dan kemungkinan tindakan perawatan dan pengobatan yang akan dilakukan. Itupun tergantung dari keputusan Ibu. Dokter dan perawat tidak berani melakukan jika mendapat persetujuan dari ibu. Sudakah ibu mempetimbangkan hal itu sedalam-dalamnya?”
Pasien : “Terima kasih Bu Perawat. Saya telah mempertimbangkan sedalam-dalamnya, bahwa segala upaya dokter dan ibu perawat adalah untuk kebaikan dan kesembuhan saya. Saya menerimanya dengan baik.”
4. Fase Pengakhiran
Kadang-kadang setelah terjadinya interaksi yang harmonis antara pasien dengan perawat, sering diketemukan kesulitan dan penuh kebingungan akan memutuskannya.
Tetapi kadang-kadang, setelah terjadi pembicaraan yang amat serius antara pasien dan perawat, akhirnya pembicaraan itu berhenti seketika karena adanya situasi diam dari pihak pasien. Dalam situasi demikian, perawat harus mampu mempergunakan cara-cara untuk mengakhiri pembicaraan tersebut :
Contoh :
Perawat : “Bu, kita sudah banyak membicarakan tentang masalah apa yang harus kita lakukan agar ibu dapat sembuh. Dapatkan ibu menyimpulkan hasil-hasil yang telah kita sepakati tadi?”
B. Tehnik-tehnik komunikasi terapeutik secara verbal
Beberapa tehnik komunikasi terapeutik secara verbal yang dapat dipergunakan oleh perawat dalam memberikan pelayanan perawatan keperawatan antara lain :
1. Mendengarkan secara aktif
Mendengarkan secara aktif mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Pada saat mendengarkan, perawat harus menutup diri dari stimulus atau rangsangan yang datang dari luar, selain mendengarkan apa yang dikemukakan oleh pasien.

b. Perawat harus memperhatikan pesan, ungkapan, baik yang diungkapkan secara verbal atau secara non verbal oleh pasien tersebut.

c. Perawat harus dapat menarik kesimpulan terhadap perasaan pasien yang telah diungkapkan
Beberapa cara mendengarkan yang baik yang dapat dilaksanakan oleh perawat yaitu :
a. Perhatian sepenuhnya dan terpusat kepada pasien,
pandangan perawat sekali-kali melihat wajah pasien, tetapi
tatapan mata itu tetap dalam batas-batas sopan dan wajar.
b. Mendengarkan segala sesuatu yang dikemukakan oleh
pasien, memperhatikan perasaan dan perilakunya. Perawat
dapat mengungkapkan kata-kata selama pasien
mengemukakan perasaan, pengalaman seperti :
“ Bagus Bu; aduh kasihan juga; lalu apa lagi yang ibu rasakan ?”
2. Memulai Pembicaraan
Perawat harus hati-hati dalam melakukannya, utamakan sikap yang bersahabat serta penerimaan yang baik dan jangan langsung ke permasalahannya.
contoh :
Perawat : Selamat pagi bu, apakah ibu dapat menikmati tidur nyenyak semalam di Rumah sakit ini ?
Pasien : Rasanya saya belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan disini, tetapi dengan bantuan kipas angin ini saya dapat tidur walaupun hanya beberapa jam saja.
Perawat : Hampir semua pasien mengalami hal seperti itu ibu, tetapi lama-kelamaan ibu dapat mengatasi perbedaan ini dengan baik. Saya doakan semoga ibu merasa senang dirawat dan cepat kembali kerumah.
Pasien : Terima kasih bu perawat, itulah harapan saya dan keluarga saya, saya ingin cepat sembuh dan kembali ke keluarga saya.
Perawat : Saya yakin ibu pati tabah menghadapinya, karena saya yakin ibu telah memiliki banyak pengalaman sebelum ini.
Bisakah ibu menceritakan pengalaman ibu sebelum masuk rumah sakit ini.
3. Mengulang Pembicaran

Yaitu mengulang kata-kata pasien dengan menggunakan kata-kata perawat sendiri
Tehnik ini memberi gambaran kepada pasien bahwa perawat telah mendengarkan apa yang telah diungkapkan, baik yang menyangkut perasan atau persepsi pasien terhdap sesuatu.

Contoh :
Pasien : Sebenarnya saya menginginkan untuk dirawat disini, banyak permasalahan yang saya hadapi sekarang, sulit rasanya saya mengungkapkan seluruhnya.
Perawat : Jadi ibu menyatakan, sebenarnya tidak ingin dirawat diini karena banyak masalah yang sedang ibu hadapi, yang menyulitkan ibu untuk mengungkapkannya disini …..
4. Memantulkan Perasaan Pasien
Seeorang perawat harus mampu memantulkan apa yang dirasakan oleh pasien, sikap pasien yang terungkap melalui kata-kata pasien dengan kata-kata perawat.
Contoh :
Pasien : Bu Perawat mungkin hanya kepada bu perawat yang perlu saya beritahukan apa yang muncul dihati saya. Pada kehamilan yang lalu saya menderita penyakit seperti ini. Sekarang sulit rasanya saya akan memperoleh kesembuhan.
Perawat : Ya kelihatannya ibu amat pesimis tentang kesembuha ibu
. Membagi Pengalaman Pasien
Dalam situasi ini, perawat hendaknya menyatukan diri dengan pasien, seakan-akan apa yang dirasakan pasien juga dirasakan oleh perawat.
Contoh :
Pasien : Apa yang telah saya lakukan bersama-sama dengan suami dan keluarga saya sama sekali tidak ada hasilnya. Saya sudah pasrah dan sedih, lebih-lebih jika melihat anak-anak maih kecil,… pasien menangis.
Perawat : Ibu, saya merasakan sedih sekali apa yang ibu sedihkan, tetapi marilah kita sama-sama mengatasinya.
6. Persetujuan
Pernyataan perawat yang menyetujui anggapan atau gagasan pasien dapat memberikan bantuan emosional kepada pasien.
Contoh :
Pasien : Tetapi dengan melihat anak-anak masih kecil yang memerlukan kasih sayang dari orang tuanya, tumbuh perlawanan dari diri saya untuk berjuang sekuat tenaga dan juga selalu berdoa, semoga lekas sembuh.
Perawat : Bagus sekali bu, itu merupakan suatu sikap yang amat baik, semogalah berhasil.
7. Dukungan
Maksudnya pernyataan perawat guna memberikan dukungan serta dorongan kepada pasien agar timbul rasa kepercayaan kepada dirinya sendiri, atau untuk menimbulkan rasa simpati.

Contoh :
Pasien : Bu Perawat, beginilah keadaan / nasib saya, saya mohon janganlah dibiarkan saya lebih menderita lagi.

Perawat : Saya memahami apa yang sedang ibu rasakan.
Ketahuilah Bu, saya akan merasa bergembira sekali, apabila saya dapat menolong Ibu.
8. Pembatasan
Pembatasan disini dimaksudkan, bahwa perawat perlu membatasi gerak/tindakan pasien agar tidak melampaui batas sehingga merugikan dirinya sendiri.
Contoh :
Pasien : Saya jengkel dengan keadaan diri saya, dan saya menyesali diri saya. Kadang-kadang jengkel dengan semua orang dirumah saya. Ah…. Tidak tahulah Bu perawat, apalagi yang muncul di hati saya.
Perawat : Bu, Ibu bebas mengutarakan segala kekesalan ibu, kejengkelan Ibu, tetapi satu hal yang tidak boleh ibu lakukan, yaitu melalaikan makan, makan obat dan latihan yang telah saya sarankan kepada Ibu.
. Mengajukan Pertanyaan
Perawat mengajukan beberapa pertanyaan, apakah pertanyaan untuk meminta penjelasan tentang keluhannya ataukah pertanyaan yang menyangkut keadaan lingkungan dan lain-lainnya.
Contoh :
Perawat : Coba Ibu ceritakan tentang usaha-usaha pengobatan yang telah ibu laksanakan.
10. Memberi Saran
Perawat memberikan keterangan atau saran kepada pasien. Pemberian saran ini hendaknya dikemukakan pada akhir pembicaraan.
Contoh :
Perawat : Saya melihat sudah banyak kemajuan yang telah ibu peroleh, seperti ibu sudah dapat berjalan, kadar darah ibu sudah meningkat. Saya minta untuk terus minum obat- obat dengan teratur dan tingkatkan frekuensi latihan jalan
11. Menolak
Penolakan disini maksudnya, melarang pasien secara langsung ataukah secara terselubung untuk melanjutkan rencana/tindakannya yang merugikan dirinya.
Contoh :
Pasien : Bu Perawat, sedikitpun tidak ada kemajuan yang saya rasakan, banyak biaya yang telah saya habiskan yang mungkin bisa dipakai untuk biaya sekolah anak-anak saya.
Perawat : Bu, perlu Ibu pertimbangan sebaik-baiknya sebelum ibu memutuskan hal itu. Rundingkanlah dengan suami dan keluarga ibu.
Contoh :
Perawat : Bu, kita telah berbicara banyak mengenai perawatan dan pengobatan ibu, kalau tidak salah kita telah menyepakati beberapa hal :
Ibu akan berusaha untuk mentaati petunjuk perawatan. Ibu bersedia untuk menjalani pemeriksaan yang akan kami laksanakan.
KOMUNIKASI PADA BAYI DAN ANAK.
Perkembangan Komunikasi Bayi dan Anak Balita
Bahasa dan fase-fase perkembangan bahasa dari bayi dan anak
1. Fase Prelinguistic ( Fase sebelum berbicara )
Sampai umur 1 tahun bayi hanya dapat mengkomunikasikan kebutuhannya lewat tangisan. Pada usia 2-3 mingu orang tuanya akan dapat membedakan tangisan sang bayi.
Bayi akan menangis apabila ia lapar, pantatnya basah BAK /BAB, kesakitan atau minta perhatian orang lain.
Tangisan lapar dimulai dengan suara mendatar dan menjadi meningkat sesuai kebutuhannya.
Tangisan kesakitan biasanya berupa suatu teriakan yang medadak karena bayi terkejut
Tangisan rasa nyaman atau tangisan minta perhatian, dimana tangisan bayi akan berlangsung terus menerus.
Bayi pada minggu kedua mengeluarkan suara yang enak, dimulai terlihat senyum. Ini akan terlihat apabila bayi merasakan kepuasan.
Contoh, Bila bayi diajak bercanda atau diajak berbicara.
Senyum yang mempunyai arti sosial diperlihatkannya setelah berusia tiga minggu, hanya disini bayi tersebut belum bisa membedakan wajah yang dilihatnya.
Perkembangan bahasa anak bayi itu mulai berlangsung pada usia 2 – 6 bulan.
Pada usia 4-5 bulan bayi sering mengeluarkan suara rasa-rasa puas dengan nada suara rendah, suara demikian ini sering diucapkannya pada saat-saat ia bangun tidur.
Sekitar umur 5-6 bulan, bayi mulai berbicara dengan mengeluarkan macam-macam bunyi, dengan nada-nada keras, perlahan dan tinggi rendah, sesuai dengan nada kehidupan perasaanya.
Pada usia 9-10 bulan, bayi mulai menggunakan suku kata yang diulang, seperti mama, papa, mam-mam, wa-wa, uk-uk dll.
Jika bayi ditanya, “dimana mama?”. Maka ia akan menoleh dan mencari ibunya, sekalipun dia belum mampu mengucapkan kalimat untuk exspresi tersebut.
Untuk membuat hurufbmati sepertib, atau k, bayi memerlukan pertumbuhan motorik yang cukup untuk bibir, lidah, tenggorokan dan suara pada saat yang sama. Juga sewaktu-waktu mengkombinasikan antara huruf hidup dengan huruf mati.
Contoh : da,da dan ge,ge
Fase Prelinguistic termasuk bunyi refleksi (berupa reflek vocal) meliputi :
a. Babbling (meraban)
Ia suka mengeluarkan suara yang berulang ketika merasa senang sendiri dan berbicara sendiri dengan dirinya sendiri
Meraban sering terjadi setelah bayi bangun tidur atau menjelang tidur.
Sampai berumur 7 bulan, bayi berusaha meniru suara yang didengar disekitarnya dan kemudian timbul “Lalling” yaitu mengulang suara yang didengar dari sekitarnya.
b. Echolalia
Yaitu mengulang gema suara dari suara yang diucapkan oleh orang lain. Bayi sudah bisa sadar mendengar.
Bayi mulai belajar memanifulasi lidah, bibir, tenggorokan dan meniru suara yang dikeluarkan oleh orang lain.
Pertumbuhan bicara dan bahasa anak akan cepat bila orang tua mengulang suara bayi dan bayi membalasnya dengan meniru.
. Kata Pertama
Bayi memberi reaksi yang berbeda pada satu kata yang diucapkan dengan perbedaan intonasi pada umum 4-5 bulan.
Bicara yang sesungguhnya dimulai pada umum 12-18 bulan.
3. Kalimat Pertama
Umur 2 tahun anak mulai belajar menyusun beberapa kata. Periode ini dikenal sebagai permulaan dari pembicaraan komplit, yaitu menggunakan kombinasi beberapa kata dalam susunan tata bahas
Contoh :
“perahu”, dikatakan “pelahu”
. Kemampuan Berbicara Egosentris dan Memasyarakat
Psikolog Perancis Jean Peeget mengkategorikan anak dari umur 4 sampai 11 tahun keatas berbicara egosentris dan memasyarakat.
a. Kemampuan berbicara egosentris (berpusat pada diri sendiri)
1) Repentitif (pengulangan)
Bila seorang anak berbicara…., kata-kata yang diucapkan anak itu diulang oleh anak lain. Kemudian anak itu mengulanginya lagi, dan kemudian diucapkan kembali oleh anak yang lain
2) Monolog (berbicara satu arah)
Kemampuan berbicara seperti ini biasanya pada anak-anak pra sekolah. Ia berbicara sendiri dan panjang.
3) Monolog kolektif
Ketika seorang anak sedang berbicara dan ada kehadiran anak yang lain, maka mereka masing- masing akan berbicara tetapi pembicaran mereka berbeda.

Menurut Lev Vygotsky “Kemampaun berbicara egisentris merupakan bentuk petunjuk dan bantuan bagi anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
b. Kemampuan berbicara memasyarakat
Hal ini menunjukan adanya tukar pikiran dengan orang lain termasuk pertanyaan, jawaban perintah, kritik terhadap orang lain.
Pada anak prasekolah kemampuan berbicara egosentris semakin berkurang dan kemampuan berbicara memasyarakat menjadi lebih menonjol.
5. Perkembangan Semantik
Sematik adalah pengetahuan mempelajari arti dari kata pada bahasa yang diajarkan.
Anak pertama kali belajar memahami arti kongkrit dan jenis kata kongkrit. Kemudian lambat laun ia memahami arti dan jenis kata abstrak.
Contoh :
Anak pertama kali mengetahui kata meja dan kursi, selnjutnya menyebutkan sebagai kategori perabot.
Atau kata jeruk dan apel selanjutnya menyebutkan buah- buahan.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
1. Intelegensi (kecerdasan)
2. Jenis kelamin
3. Bilingual (dua bahasa)
4. Status tunggal atau anak kembar
5. Ransangan / dorongan orang tua
6. Sosial ekonomi
Proses Komunikasi Pada Bayi dan Anak
Melihat perkembangan dan kemajuan kata dan kalimat seirama perkembangan umur, maka dalam melakukan komunikasi dengan bayi dan anak sudah sepatutnya kita mengikuti Psikologi anak.
Seorang perawat dapat mendorong, membantu ibu serta pihak lain yang terkait dengan pemeliharaan bayi dan anak dalam memberikan dukungan, rangsangan aktif dalam perkembangan bahasa dan emosional bayi dan anak dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Memperbaiki model orang tua
Orang tua didorong untuk melengkapi diri dan berkomunikasi menjadi model yang baik.
b. Mendorong kemampuan komunikasi, baiksecara verbal maupun
nonverbal
Anak memerlukan pengalaman verbal seperti bersajak, membaca dengan keras dan memberikan kesempatan pada anak untuk mengatakan pendapatnya.
c. Berikanlah anak pengalaman untuk berbicara
Bila ada kesempatan perawat atau orang tua harus menyediakan mainan, buku-buku bergambar dsb yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi.
d. Mendorong anak untuk mendengar
Doronglah anak untuk mendengar dan mengulang sajak atau nyanyian dan bertanya tentang bunyi-bunyian.
e. Mendorong ana untuk berbicara sebagai pengganti tindakan /aksi
Kemampuan anak untuk mengekspresikan dirinya sendiri secara
verbal bisa ditingkatkan oleh orang tua dengan car langsung
menanyakan apa yang mereka inginkan.
f. Gunakanlah kata (istilah) yang pasti dan benar
Anak-anak belajar membedakan warna, ukuran, bentuk, posisi dan hak milik suatu benda apabila istilah yang digunakan pasti benar.
Komunikasi Terapeutik Kepada IBU
Komunikasi Terapeutik kepada Calon Ibu
1. Kondisi Psikologis
Yang dimaksud diini adalah anak gadis sebagai calon ibu. Pada anak gadis fungsi seksualnya telah mulai nampak yaitu fungsi reproduksi dan fungsi erotis.
2. Komikasi Terapeutik Calon Ibu
Hal ini menitik beratkan kepada :
a. Memberikan penjelasan secara fisiologis peristiwa yang disebut menstruasi.
b. Memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubngan dengan peristiwa menstruasi.
c. Memberikan bimbingan tentang persiapan perkawinan, dihubungkan dengan NKKBS (norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera)
d. Persyaratan-persyaratan kesehatan yang sangat menentukan sebagai calon ibu
Komunikasi Terapeutik pada Ibu Hamil
1. Perubahan Fisiologis
Ditandai dengan :
– Rasa mual
– Paningkatan suhu tubuh
– Peningkatan denyut nadi
– Paningkatan tekanan darah/tensi
– Pada orang-orang tertentu terjadi perubahan warna kulit dll.
2. Perubahan Psikologis
Peristiwa-peristiwa kejiwaan yang menyertai ibu hamil, mulai dari peristiwa ngidam yang umumnya dibarengi oleh emosi- emosi yang kuat karena dorongan hormonal, ibu menjadi lebih peka, mudah tersinggung.
3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat yang akan senantiasa berhubungan dengan ibu yang sedang hamil, diharapkan mampu melalui tindakan pemeriksaan, penyuluhan, dan segala bentuk kontak langsung pada ibu hamil melalui berbagai metode maupun bentuk hubungan dapat mengadakan komunikasi terapeutik.
Komunikasi yang dimaksud diharapkan dapat meredam pemunculan faktor psiko sosial yang berdampak negatif terhadap kehamilannya.
Contoh :
Pasien : Bu perawat pada umur kehamilan saya yang kedua bulan ini, saya merasa tidak enak makan, pusing, muntah-muntah, tidak bisa tidur.
Perawat : Bu, apa yang ibu rasakan ini dirasakan pula oleh ibu- ibu yang lain. Hal ini akibat dari pengaruh hormon yang ada pada badan ibu.
Pengaruh ini bisa ibu atasi dengan usaha penyesuaian, makan yang cukup, teratur dan menjaga pikiran yang sehat, meningkatkan kesadaran untuk menrima dan memelihara kehamilan ini bersama-sama keluarga lain khususnya suami.
Komunikasi Terapeutik Dengan Ibu Masa Kelahiran
1. Perubahan Fisiologis
Semakin meningkat umur kehamilan, ibu semakin merasakan pergerakan-pergerakan bayi. Kondisi otot-otot panggul dan otot-otot jalan lahir mengalami pemekaran.
Keluarnya bayi itu sebagian besar disebabkan oleh kekuatan- kekuatan kontraksi otot-otot dan sebagian lagi oleh tekanan dari perut.
Kontraksi drai otot-otot uterus dan pelontaran bayi keluar amat dipengaruhi oleh : sistem syaraf simpatis, parasympathis dan syaraf lokal pada otot uterus.
2. Perubahan Psikologis
Pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran bayinya, ibu banak dipengaruhi oleh perasaan-perasaan/ emosi-emosi dan ketegangan.
3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Pada Ibu Melahirkan
Perawat : Bu, ibu sudah ada kemajuan dalam proses peralinan ini (sambil menepuk nepuk/mengelus-ngelus tangan pasien). Perlu saya jelaskan bahwa fase-fase peralinan sampai bayi ibu lahir adalah (jelaskan dengan singkat). Tetapi, proses ini akan semakin lancar kalau ibu berusaha dan keyakinan, serta berusaha berama-ama kita mempercepat kelahiran.
Sampai detik ini keadaan bayi ibu cukup sehat dan ibu juga kondisinya bai.
Suami ibu telah menunggu diluar sambil bedoa dan selalu menanyakan keadaan ibu. Lakukanlah apa yang saya sarankan, tidak lama lagi bayi ibu akan lahir, saya selalu membantu ibu.
Ibu dituntun untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang proses pelontaran/kelahiran bayi.
Sang suami juga dibesarkan hatinya, dijelaskan apa yang terjadi pada istrinya.
Contoh :
Pasien : Aduh bu perawat, saya tidak tahan menahan sakit, masih lamakah ini
Komunikasi Terapeutik Dengan Ibu Masa Nifas
1. Perubahan Fisiologis
Setelah persalinan maka akan terjadi proses Involusi yaitu pemulihan fungsi-fungsi alat kandungan secara perlahan-lahan ke kondisi semula.
Setelah melahirkan, perut ibu masih kelihatan besar. Keluar lochia dari vagina sampai beberapa hari (42 hari).
2. Perubahan Psikologis
Peristiwa persalinan merupakan peristiwa yang sangat mengesankan bagi seorang ibu, oleh karena :
a. Ibu merasa bangga karena mampu mengatasi kesulitan, kecemasan, kesakitan, penderitaan dengan tenaganya sendiri.
Ibu merasa bahagia karena telah mendapatkan relasi dengan
bayinya , dan ia ingin cepat-cepat mengetahui jeis kelamin bayinya,
bentuk bayinya.
Namun disamping itu ada pemunculan gejala-gejala psikis yang tidak bahagia pada ibu yang telah melewati masa perjuangannya. Hal ini disebabkan oleh karena :
a. Ibu mengalami kesenduhan, kepedihan hati, kekecewan dan penderitaan bathin, misalnya anak yang dilahirkan merupakan hasil diluar pernikahan.
b. Kesedihan serat kesenduhan yang muncul diakibatkan oleh karena jenis kemin bainya tidak sesuai dengan idamannya ataupun idaman suami/mertuanya.
c. Bagi ibu-ibu yang telah bercerai, maka kelahiran anaknya merupakan peristiwa yang tidak menyenangkan
3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Pada Ibu Nifas
Setelah ibu melahirkan bayinya, maka pearwat harus secara hati-hati melakukan komunikasi terapeutik, karena kestabilan emosi belum puli seperti semula.
Orientasi pembicaraan lebih berkisar penerimaan terhadap bayi, serta kondisi fisik dan psikis ibu Nifas.
Contoh :
Perawat : Bu, saya ucapkan selamat, karena bayi ibu telah lahir dengan selamat atas perjuangan ibu yang begitu tabah dan penuh semangat (sambil memegang tangan ibu).
Pasien : Terima kasih bu perawat, bolehkah saya memeluk dan mencium bayi saya…. Aduh bahadia saya.
Perawat : Tentu saja bu, silahkan, selamat untuk ibu dan bai ibu (dan teruskan untuk memberitahukan perawatannya setelah ibu tenang)
Komunikasi Terapeutik dengan Ibu Meneteki
1. Perubahan Fisiologis
Setelah masa kelahiran bayi, mulailah masa inovasi. Uterus yang semula menggelmbung besar serta mendesak organ internal, secara berangsur-angsur mengecil kembali, begitu pula organ-organ yang lainnya kembali ke letak semula.
Organ yang lain juga mulai produktif khususnya kelenjar- kelenjar susu. Kelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi oleh hormon-hormon, maka mulailah masa menyusui
2. Perubahan Psikologis
Setelah bayi lahir, ibu merasakan terpisah dengan bayinya. Namun bayi itu kini dijadikan objek kasih sayang yang tadinya menyatu dengan dirinya, sekarang terpisah dengan jasmaninya.
Gejolak emosional yang muncul misalnya : Ibu merasa cemas dengan keselamatan bayinya selanjutnya, ia cemas anaknya tidak dapat mendapatkan ASI dan perawatan cukup.
3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik dengan Ibu menyusui lebih ditekankan kepada peranan Ibu untuk memberikan air susunya kepada bayinya sebagai wujud pertalian kasih sayang yang tiada taranya.
Contoh :
Perawat : Selamat pagi Bu, sekarang sudah jam untuk memberikan ASI kepada bayi ibu.
Lihatlah, buah hati Ibu memerlukan curahan kasih sayang ibunya yaitu ingin menyusui.
Pasien : Ah, Bu perawat bisa saja. Terima kasih Bu Perawat. Tapi ….
Perawat : Ada apa lagi bu, adakah yang saya perlu bantu ?
Pasien : Saya belum tahu bu perawat, cara-cara meneteki yang benar, cara-cara merawat buah dada saya supaya dapat mengahasilkan ASI yang banyak.
Perawat : Bagus sekali bu, memang itulah yang akan kita bicarakan sambil ibu meneteki bayi ibu.
(Bidan dan pasien berinteraksi sambil melihat cara- cara meneteki, dan langsung memberikan pendidikan)
Konseling
. Pengertian konseling (KIP/K)
☺ Konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan
orang lain. (Depkes RI, 2000:32).
☺ Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap,
dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi
interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik
bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini,
masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk
mengatasi masalah tersebut.
(Saifudin, Abdul Bari dkk, 2001:39 )
☺ Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam
membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui
pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien.
( Saraswati, Lukman, 2002:15)

2. TUJUAN KONSELING ( KIP/K)
Membantu klien melihat permasalahannya supaya lebih jelas sehingga klien
dapat memilih sendiri jalan keluarnya.

3. KETRAMPILAN – KETRAMPILAN YANG HARUS DIMILIKI OLEH
KONSELOR
a) Ketrampilan Observasi
Hal – hal yang ada dalam ketrampilan observasi yaitu :
“ Apa yang diobservasi/diamati ? “
Tingkah laku non verbal klien
Cara menatap, bahasa tubuh, kualitas suara, merupakan indicator penting
yang mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada klien.
Tingkah laku verbal klien
Kapan klien beralih topic, apa saja kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan
yang disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal http://www.akbidypsdmi.net
Seorang bidan yang tajam pengamatannya akn memperhatikan bahwa ada
beberapa konflik/ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non
verbal, antara dua buah pernyataan, antara apa yang diucapkan dan apa
yang dikerjakan.
Dalam mengobservasi sesuatu ada 2 hal penting yang perlu
diperhatikan :
Pengamatan Obyektif
Adalah berbagai tingkah laku yang kita lihat dan dengar.
Misalkan : jalan mondar-mandir, tangan dikepal, dsbnya.
Interpretasi/penafsiran
Adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat
(amati) dan kita dengar.

b) Ketrampilan Mendengar Aktif
Terdapat empat bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai dengan
situasi yang dihadapi, yaitu :
♣ Mendengar Pasif (Diam)
Dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya :
berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau
sedih. Selain itu bila berhenti sejenak, konselor dapat mendengar pasif
untuk memberi kesempatan menenangkan diri.
♣ Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal
Seperti : Hmm, yaa, lalu, oh begitu, terus….. atau sesekali mengangguk.
Dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa
yang terjadi pada dirinya.
♣ Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi
Dilakukan bila konselor ingin mendalami apa yang diucapkan/diceritakan
klien. Misalnya :“ Bagaimana hubungan ibu dengan saudara-saudara
suami ?”
“ Apakah maksud ibu dengan perbuatan tidak layak itu?’
♣ Mendengar Aktif
Yaitu dengan memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan
perasaan klien.
– Refleksi Isi atau Parahasing http://www.akbidypsdmi.net
Adalah menyatakan kembali ucapan klien dengan menggunakan kata-kata
lain, memberi masukan kepada klien tentang inti ucapan yang baru
dikatakan klien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan klien.
– Refleksi Perasaan
Adalah mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh konselor dari
intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal
yang tersirat dari kata-kata verbal klien.

c). Ketrampilan Bertanya
Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi pertanyaan tertutup dan
terbuka.
ō Pertanyaan Tertutup
– Menghasilkan jawaban “ ya “ atau “ tidak “ yang berguna untuk
mengumpulkan informasi yang factual.
– Tidak menciptakan suasana yang nyaman dalam berkomunikasi dan
prose pengambilan keputusan
– Bidan mengontrol jalannya percakapan, klien hanya memberikan
informasi yang bersangkutan dengan pertanyaan saja.
ō Pertanyaan Terbuka
– Jenis pertanyaan biasanya memakai kata tanya “ bagaimana “ atau “
apa “
– Memberi kebebasan atau kesempatan kepada klien dalam menjawab
yang memungkinkan partisipasi aktif dalam percakapan.
– Merupakan cara yang efektif untuk menggali informasi dengan
menggunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan perhatian.
Activity :
1. Sebutkan pengertian dari konseling !
2. Jelaskan tujuan konseling !
3. Sebutkan ketrampilan yang harus dimiliki konselor !
Summary :
1. Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam
membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui
pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien.
2. Tujuan konseling membantu klien agar mampu memecahkan masalah. http://www.akbidypsdmi.net
3. Tiga ketrampilan yang harus dimiliki konselor adalah Ketrampilan observasi,
ketrampilan mendengar aktif dan ketrampilan bertanya.

4. PEMAHAMAN DIRI
Komunikasi yang dilakukan tanpa mengena sasaran, maka yang disalahkan adalah
komunikatornya. Komunikator adalah pengambil inisiatif terjadinya suatu proses
komunikasi . Dia harus mengenal dirinya, sebab dengan mengenal diri kita dapat
mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ada pada diri kita. Untuk memahami
diri sendiri Joseph Luft dan Harrington Ingham memperperkenalkan konsep yang
dikenal dengan nama “Johari Window”

* JOHARI WINDOW ( JENDELA JOHARI ) *

Diri Terbuka
( diketahui diri sendiri dan orang lain )
Diri Buta
(tidak diketahui diri sendiri, tapi
diketahui orang lain )
Diri Tersembunyi /Rahasia
(diketahui diri sendiri, tapi tidak
diketahui orang lain )
Diri Gelap
(tidak diketahui diri sendiri maupun
orang lain )

Diri Terbuka
Pada wilayah ini kepribadian, kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada
diri kita selain diketahui oleh diri sendiri juga diketahui oleh orang lain. Oleh
karena itu jika wilayah terbuka ini makin melebar dalam arti kita dapat
memahami orang lain dan juga orang lain dapat memahami diri kita maka
akan terjadi komunikasi yang mengena. Misal : terbuka terhadap dunia
sekelilingnya, potensi diri disadari, perasaan dan pikirannya terbuka untuk
pengalaman- pengalaman hidup yang menyedihkan, menyenangkan,
pekerjaan, dan sebagainya.
Diri Buta
Pada wilayah buta, orang tidak mengetahui kekurangan yang dimilikinya
tetapi sebaliknya kekurangan itu justru diketahui oleh orang lain bahkan ia
berusaha menyangkal kalau hal itu ada pada dirinya.Oleh karena itu, kalau http://www.akbidypsdmi.net
wilayah buta makin melebar dan mendesak wilayah lain maka akan terjadi
kesulitan komunikasi. Misal : perasaannya kurang terbuka, kurang luas cara
pandang dan variasi hidupnya dan sebagainya.
Diri Tersembunyi
Pada wilayah tersembunyi, kemampuan yang kita miliki tersembunyi
tersembunyi sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Ada dua konsep yang
erat hubungannya dengan wilayah ini :
– Over disclose, yaitu sikap yang terlalu banyak mengungkapkan sesuatu
sehingga hal-hal yang seharusnya disembunyikan juga diutarakan.
Misalnya : Konflik dalam rumah tangga, hutang-hutangnya dan
sebagainya.
– Under disclose, yaitu sikap yang terlalu menyembunyikan sesuatu yang
seharusnya dikemukakan. Misalnya : Dalam pengobatan kejiwaan sikap
under disclose dapat menyulitkan psikiater karena pasien sulit
menyampaikan informasi yang diperlukan untuk pengobatannya.
Diri Gelap
Wilayah ini merupakan wilayah yang paling kritis dalam komunikasi. Karena
selain diri kita yang tidak mengenal diri, juga orang lain tidak mengetahui
siapa kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadai kesalahan persepsi
maupun kesalahan perlakuan kepada orang lain karena tidak saling mengenal
baik kelebihan, kekurangan dan juga statusnya, siapa dia?
Maka :
A : adalah individu yang kurang memahami diri sendiri, tingkah lakunya terbatas,
perasaannya kurang terbuka, kurang luas cara pandang dan variasi hidupnya.
B : adalah individu yang terbuka terhadap dunia sekelilingnya, potensi diri disadari,
perasaan dan pikirannya terbuka untuk pengalaman- pengalaman hidup yang
1 http://www.akbidypsdmi.net
menyedihkan, menyenangkan, pekerjaan, dan sebagainya. Ia lebih spontan dan
bersikap jujur dan apa adanya pada orang lain.
5. PENGETAHUAN, KETRAMPILAN DAN SIKAP YANG HARUS DIMILIKI
OLEH KONSELOR
Perilaku bidan dalam melaksanakan tugas sebagai komunikator
maupun konselor dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu : Aspek Kognitif, Psikomotorik,
dan Afektif.
Pengetahuan (Kognitif)
Meliputi pengetahuan tentang :
– Kesehatan
– Ilmu kebidanan dan kandungan
– Masalah yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan pasca
persalinan dan upaya pencegahan serta penatalaksanaanya.
– Keyakinan akan adat isitiadat, norma tertentu
– Alat / metode kontrasepsi
– Hubungan antar manusia
– Komunikasi interpersonal dan konseling
– Psikologi
– Dan sebagainya
Ketrampilan (Psikomotorik)
Harus terampil dalam :
– Membantu proses persalinan dan berbagai masalah kesehatan
– Menggunakan alat-alat pemeriksaan tubuh klien
– Melakukan komunikasi interpersonal dan konseling
– Menggunakan alat bantu visual untuk membantu pemberian informasi
kepada klien
– Mengatasi situasi genting yang dihadapi klien
– Membuat keputusan
– Dan sebagainya
Sikap (Afektif)
– Mempunyai motivasi tinggi untuk menolong orang lain
– Bersikap ramah, sopan , dan santun
– Menerima klien apa adanya
– Berempati terhadap klien http://www.akbidypsdmi.net
– Membantu dengan tulus
– Terbuka terhadap pendapat orang lain
6. FAKTOR – FAKTOR PENGHAMBAT KIP/K
A. Faktor Individual
Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan factor individual yang
dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan
gabungan dari :
a. Faktor fisik – kepekaan panca indera (kemampuan untuk melihat,
mendengar…), usia, gender (jenis kelamin)
b. Sudut pandang – nilai –nilai
c. Faktor social- sejarah keluarga dan relasi, jaringan social, peran dalam
masyarakat, status social, peran social.
d. Bahasa
B. Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi
a. Tujuan dan harapan terhadap komunikasi
b. Sikap terhadap interaksi
c. Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan,
perhatian, dukungan)
d. Sejarah hubungan
C. Faktor Situasional
Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan
antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi
dengan pelanggar lalu lintas.
D. Kompetensi dalam melakukan percakapan
Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua
pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah :
– kegagalan menyampaikan informasi penting
– perpindahan topic bicara yang tidak lancar
– salah Pengertian

1. Pemahaman diri menurut Johari Window ada empat yaitu diri terbuka, diri
buta, diri tersembunyi/rahasia dan diri gelap.
2. Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan :
a. Pembinaan hubungan baik (Rapport)
b. Penggalian informasi (identifikasi masalah klien, kebutuhan, perasaan,
kekuatan diri dsb) dan pemberian informasi sesuai kebutuhan
c. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah,perencanaan
d. Menindak lanjut pertemuan

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered Perbandingan dengan Psikoterapi
Dibanding dengan psikoterapi, konseling lebih berurusan dengan klien(konseli) yang mengalami masalah yang tidak terlalu berat sebagaimana halnya yang mengalami psikopatologi, skizofrenia, maupun kelainan kepribadian.
• Umumnya konseling berasal dari pendekatan humanistik dan client centered. Konselor juga berhubungan dengan permasalahan sosial, budaya, dan perkembangan selain permasalahan yang berkaitan dengan fisik, emosi, dan kelainan mental. Dalam hal ini, konseling melihat kliennya sebagai seseorang yang tidak mempunyai kelainan secara patologis. Konseling merupakan pertemuan antara konselor dengan kliennya yang memungkinkan terjadinya dialog dan bukannya pemberian terapi atau treatment. Konseling juga mendorong terjadinya penyelesaian masalah oleh diri klien sendiri. Bidang Layanan
• Konseling bisa dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti di masyarakat, di dunia industri, membantu korban bencana alam, maupun di lingkungan pendidikan. Khusus di dunia pendidikan, layanan ini biasa disebut bimbingan konseling dan dilakukan oleh seorang konselor pendidikan

• Kaunseling merupakan suatu konsep yang telah di ketahui umum khususnya di kalangan masyarakat maju. Semakin majunya kehidupan ahli dalam sesebuah masyarakat, semakin meningkat pula masalah-masalah yang harus di tempuhi oleh ahli-ahlinya.
• Kebanyakan individu apabila diminta untuk mentakrifkan tentang kaunseling akan menyatakan bahawa kaunseling adalah satu proses pertemuan di antara seorang kaunselor dengan individu yang ingin diberikan bantuan. Dengan lain perkataan, kaunselor ialah individu yang khusus bertugas secara terarah atau sukarela untuk memberikan pertolongan kepada orang lain untuk menyelesaikan sesuatu masalah yang dihadapi oleh klien (orang yang datang berjumpa denga kaunselor). Definasi yang di berikan ini terlalu umum.
Untuk pemahaman dengan lebih jelas lagi tentang definisi kunseling, dipetik tiga definisi yang telah dibuat oleh tiga tokoh iaitu Blocher (1974); Corey (1977) dan James (1982). Blocher (1974) mendefinasikan kaunseling sebagai suatu proses untuk menolong individu supaya ia menjadi lebih sedar tentang dirinya dan bagaimana ia dapat bertindak balas dalam alam persekitarannya. Corey (1977) sepertimana dengan Blocher menekankan tentang proses di mana seorang klien diberi peluang untuk menerokai aspek diri dan kehidupannya yang menimbulkan masalah pada dirinya. Akhir sekali James (1982) pula mendefinasikan kaunseling sebagai suatu proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses membantu individu untuk mencapai kehendaknya, membimbing dan menilai potensi yang ada pada diri individu
• Ketiga-tiga definisi yang di pilih ini memberikan penekanan kepada proses untuk menolong, menyedarkan individu tentang dirinya dan suatu proses pembelajaran individu untuk mencapai tingkat kesejahteraan dalam kehidupan yang dilalui.
• Konsep atau definasi kaunseling mengikut perspektif Islam didapati lebih luas dan lebih komprehensif. Aziz Salleh (1996) misalnya menyatakan bahawa kaunseling merupakan suatu khidmat perhubungan di antara seorang klien yang mempunyai masalah psikologikal dengan seorang kaunselor terlatih untuk membantu klien bagi mengatasi masalah yang dihadapi. Kaunseling Islam mempunyai liputan skop masalah yang lebih besar iaitu yang berkaitan dengan keimanan seseorang seperti aspek ketuhanan, alam akhirat, dosa, pahala, neraka, hari kiamat dan sebagainya
Mengikuti ajaran Islam, kaedah kaunseling ini adalah suatu amalan asas yang perlu dipergunakan dalam perhubungan sesama manusia. Amalan nasihat-manasihati dan menjauhi tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam merupakan asas dalam didikan Islam.
Walau apapun definasinya, pertemuan antara kaunselor dan klien dalam beberapa sesi kaunseling talah dapat mencapai alternatif terbaik untuk individu mengatasi masalah yang dihadapi agar dirinya dapat berfungsi dengan lebih berkesan di alam persekitarannya
• Kaedah-kaedah Kaunseling
• Sejak kemunculan bidang ilmu kaunseling, terdapat kira-kira 200 pendekatan yang boleh digunakan untuk memberi kaunseling pada individu yang memerlukannya. Kaunselor yang luas pengalamannya akan memilih teori-teori yang dapat disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh klien agar bidang masalah yang dihadapi oleh klien dapat diatasi dengan berkesan. Daripada banyaknya bidang pendekatan itu, dapat dikumpulkan ke dalam empat kategori pendekatan iaitu:
1. Pendekatan psikoanalitik
2. Pendekatan kognitif
3. Pendekatan afektif
4. Pendekatan tingkah laku
Pendekatan Psikoanalitik
Diperkenalkan oleh Sigmund Freud yang berlatar belakangkan kehidupan Yahudi. Beliau telah memperkenalkan konsep assosiasi-bebas (free-assosiation) selepas berjaya dalam amalan hipnotisa (hypnosis). Freud menggunakan kaedah assosiasi untuk menerokai minda tidak sedar manusia. Dalam pendekatan psikoanalitiknya, Freud memberikan penegasan dan percaya bahawa personaliti individu dapat diketahui melalui kajian minda tidak sedar yang dipunyai.
Pada pandangan Freud, manusia secara fitrahnya bersifat dinamik iaitu terdapat perpindahan atau transformasi dan pertukaran tenaga dalam pembentukan personaliti manusia. Pendapat-pendapat yang diutarakan oleh Freud terbukti secara saintifik kini.
• Kaunselor profesional yang mengamalkan pendekatan psikoanalitik akan menggalakkan klien mereka memerihalkan dan bercakap apa sahaja yang datang dalam ingatan, terutama sekali peristiwa-peristiwa yang dilalui semasa berada di tahap kanak-kanak. Melalui pendekatan ini kaunselor cuma membentuk persekitaran atau atmosfera di mana klien akan merasai bebas untuk melahirkan isi hatinya.
• Pendekatan inu mempunyai pelbagai komplikasi dan kompleksiti. Arlow (1984) menyatakan bahawa pendekatan psikoanalitik berjaya digunakan untuk mengatasi mereka yang mempunyai pelbagai kecelaruan termasuklah gangguan histeria, narcissism, reaksi obsessif-kompulsif, kecelaruan peribadi, ketakutan, phobia dan kecelaruan seksual.
Pendekatan Kognitif
Ahli kaunseling menggunakan pendekatan kognitif dengan memberikan tumpuan kepada pemikiran manusia (thinking). Ahli teori kognitif percaya bahawa pemikiran mempengaruhi perasaan dan tingkahlaku manusia. Jika individu mengubah cara berfikir, perasaan dan tingkah lakunya juga akan mengalami perubahan melalui modifikasi tingkah laku. Salah satu pendekatan kognitif yang popular telah dikembangkan oleh Albert Ellis (1962) yang dikenali sebagai terapi emotif-rasional atau RET (Rational-Emotive Therapy). Albert membesar dalam keluarga Yahudi di Pittsburg, Amerika Syarikat. Di usia remajanya, beliau menjadi atheist disebabkan perceraian kedua ibu bapanya.
Terapi emotif-rasional mengandaikan bahawa manusia secara lahiriah adalah rasional dan tidak rasional, logikal dan gila (crazy). Ellis juga percaya bahawa sifat duaan (duality) secara semulajadi ini diwarisi dan akan terus dipunyai andainya tiada apa-apa pembelajaran berlaku yang akan mengubah cara pemikiran baru pada individu. Ellis telah menggariskan sebelas kepercayaan tidak rasional yang seringkali dipunyai oleh manusia yang menyusahkan dan boleh menimbulkan pelbagai gangguan emosi.
Kaunselor dalam pendekatan RET ini mengambil peranan yang aktif dan terus (direct). Kaunselor berfungsi untuk menunjuk arah, mengajar dan membetulkan kognisi klien. Ellis telah mengenal pasti beberapa ciri peribadi yang perlu dipunyai oleh kaunselor yang akan menggunakan RET. Mereka haruslah cerdik, berpengetahuan luas, empathetik, tekal, berfikiran saintifik, berminat untuk menolong orang dan merupakan pengguna teknik RET.
Terapi emotif-rasional didapati mudah dilaksanakan dan berkesan. Kaedah ini berkesan untuk digunakan ke atas klien remaja. RET berkesan untuk mengatasi masalah kecelaruan affektif, kecelaruan ketakutan dan penyesuaian. Di samping RET, analisis transaksional (transactional analysis) merupakan juga suatu kaedah dalam pendekatan kognitif.
Pendekatan Afektif
Antara kaedah kaunseling dalam pendekatan affektif yang popular ialah kaunseling pemusatan-insan (person-centered counseling) diikuti dengan kaunseling ‘existential’ dan terapi gestalt.
Antara kaedah kaunseling dalam pendekatan affektif yang popular ialah kaunseling pemusatan-insan (person-centered counseling) diikuti dengan kaunseling ‘existential’ dan terapi gestalt.
Pendekatan kaunseling pemusatan-insan diperkenalkan oleh Carl Rogers yang dibesarkan di Illinois, Amerika Syarikat dalam keluarga Kristian. Ahli dalam pendekatan ini mempercayai bahawa manusia adalah untuk yang baik. Manusia mempunyai ciri-ciri peribadi positif, konstruktif, sentiasa bertindak maju ke hadapan, realistik dan boleh dipercayai. Setiap insan sedar dan mempunyai daya gerakan untuk mencapai ‘penghakikian kendiri’ (self-actualization). Pada pendapat Rogers, penghakikian kendiri merupakan arah motivasi yang mengarahkan tingkahlaku manusia yang mempengaruhi dirinya sebagai manusia keseluruhannya. Setiap insan mempunyai kecenderungan asa
Pendekatan Tingkah Laku
Ahli teori dengan menggunakan pendekatan tingkah laku memberikan tumpuan kepada pelbagai bentuk tingkah laku klien. Ahli-ahli dalam pendekatan ini percaya manusia mempunyai masalah disebabkan ketidakupayaan untuk mengubah tingkah laku sesuai dengan kehendak persekitaran. Kaunselor yang menggunakan kaedah tingkah laku berusaha untuk menolong kliennya sama ada menpelajari sesuatu yang baru, bertingkah laku secara diterima atau cuba untuk memodifikasi atau menghapuskan tingkah laku yang keterlaluan.
Pendekatan tingkah laku selalu digunakan ke atas individu yang mempunyai masalah yang spesifik seperti kecelaruan makan, penyalahgunaan dadah, ketidakfungsian seksual dan beberapa kecelaruan lain termasuklah masalah ketakutan, tekanan, assertif, keibubapaan dan interaksi sosial.
untuk berusaha mencapai penghakikian diri sebenar. Ahli teori pemusatan-insan percaya setiap insan berupaya untuk mencari makna peribadi diri dan tujuan kehidupan di muka bumi ini.
Peranan kaunselor dalam pendekatan ini dikatakan bersifat holistik atau keseluruhan. Kaunselor akan menentukan dan membentuk suasana di mana klien merasai bebas untuk menerokai keseluruh aspek dirinya. Kaunseling dalam pendekatan ini memberikan tumpuan kepada hubungan kaunselor dan klien. Kaunselor sentiasa berhati-hati dan sedar dengan bahasa, perkataan dan gerakbalas klien.
Pendekatan pemusatan-insan ini berjaya untuk mengatasi pelbagai masalah upaya umpamanya masalah kepimpinan. Penyesuaian psikologikal, masalah pembelajaran, frustrasi dan berjaya menolong mengurangi sifat-sifat
B.F Skinner merupakan tokoh terkemuka yang menggunakan pendekatan tingkah laku. Beliau dilahirkan di Pensylvania, Amerika Serikat. Kebanyakan teori yang dibentuk oleh Skinner berpunca daripada kajian ke atas binatang. Skinner percaya pembelajaran merupakan penentuan paling asas berhubung dengan tingkah laku manusia.
Ahli kaunseling dengan pendekatan tingkah laku percaya bahawa semua tingkah laku yang diperhatikan oleh individu sama ada yang sesuai atau tidak adalah dipelajari. Peranan kaunselor dalam pendekatan tingkah laku adalah aktif sepanjang sesi kaunseling. Klien akan belajar, kadang kala tidak belajar atau belajar semula tatacara yang khusus untuk tingkah laku.
KESIMPULAN
1. Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam
membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui
pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien.
2. Tujuan konseling membantu klien agar mampu memecahkan masalah.
3. Tiga ketrampilan yang harus dimiliki konselor adalah Ketrampilan observasi,
ketrampilan mendengar aktif dan ketrampilan bertanya.
4. Pemahaman diri menurut Johari Window ada empat yaitu diri terbuka, diri
buta, diri tersembunyi/rahasia dan diri gelap.
5. Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan :
a. Pembinaan hubungan baik (Rapport)
b. Penggalian informasi (identifikasi masalah klien, kebutuhan,
perasaan, kekuatan diri dsb) dan pemberian informasi sesuai
kebutuhan
c. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah,perencanaan
d. Menindak lanjut pertemuan
6. Tiga aspek yang harus dimiliki oleh konselor : pengetahuan (kognitif),
ketrampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif).
7. Faktor-faktor penghambat konseling :
• Faktor individu
• Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi
• Faktor situasional
Auto Konseling
Ruang Lingkup Dan Defenisi
Konseling: menurut Carl Rogers, adalah hubungan terapi antara konselor dengan klien yang bertujuan untuk melakukan perubahan diri pada pihak klien. Menurut pengertian di atas syarat terjadinya konseling adalah: adanya Klien dan konselor. Keduanya melakukan proses dialog, omong-omong (O2) yang menjadikannya sebagai suatu hubungan terapi untuk memecahkan masalah atau merubah prilaku klien.
Konseling juga merupakan suatu seni, yakni bagaimana konselor membuat seolah-olah klien dapat mengidentifikasi permasalalahan dirinya dan memecahkan atau mencari jalan keluarnya. Seolah-olah “dari klien dan untuk klien”.
Sedangkan Auto berarti: otomatis/dengan sendirinya. Misal: auto biograpfi mengandung pengertian biography yang dibuat sendiri oleh dirinya. Mobil otomatis: mobil yang melaju sendiri dengan percepatan tanpa bantuan perseneling.
Jadi dengan pertimbangan dan pemikiran di atas, auto konseling merupakan suatu proses atau seni mengidentifikasi diri dan permasalahan (stressor) untuk mencari jalan keluarnya secara mendiri (automatically). Dikatakan otomatis atau mandiri karena peran konselor dan klien seolah-olah melebur menjadi satu kesatuan individu.
• Kenapa Butuh Auto Konseling
Sebagai manusia kita hidup tidak bisa lepas dari masalah atau stressor. Mulai dari stressor dari dalam diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Apalagi kita sebagai pekerja social-kemanusiaan atau konselor di Kanaivasu. Stressor yang datang akan menyebabkan kita menjadi stress, yakni suatu reaksi normal terhadap stressor yang kita terima. Namun bila kondisi ini menimbulkan reaksi negative (tidak teratasi) dan terjadi dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan beberapa masalah (Gangguan stress atau distress). Diantaranya adalah:
• 1. Burn out, yakni suatu kondisi dimana kita/pekerja social mengalami kelelahan fisik, emosional dan mental yang disebabkan oleh adanya keterlibatan dalam waktu yang lama dengan situasi yang menuntut secara emosional. Ciri-cirinya adalah: kelelahan yang sangat, sedih, depresi, sinis, cepat marah, tersinggung, lelah untuk peduli.
• 2. Psikosomatis, misalnya sakit perut atau pusing karena “banyak pikiran”, ganguan lambung, dan pencernaan, terganggunya periode menstruasi.
• 3. Trauma sekunder, yakni trauma yang dialami seseorang yang tidak menghadapi secara langsung peristiwa traumatic, namun menunjukkan gejala-gejala seperti mengalami secara langsung karena mendengar “keluhan hati” seorang klien.
• 4. Kelelahan kepedulian. Kelelahan emosional yang disebabkan oleh empati dan keterpaparan terus-menerus dengan kondisi masyarakat yang buruk yang merupakan bagian dari pekerjaan, seperti menjadi pendamping korban tsunami atau korban konflik.

Konseling dan Buku
• Seperti dalam penjelasan mengenai auto konseling di atas, maka kita dan buku-pun bisa melakukan seni konseling. Status yang terjadi dalam autokonseling ini adalah kita seolah-olah sebagai klien dan buku seolah-olah sebagai konselor. Itulah mengapa konseling-buku disebut autokonseling. Konseling ini menjadi seni adalah bagaimana diri kita yang bermasalah bisa mengidetifikasikannya, mencurahkannya dan mencari jalan keluarnya.
• Buku yang dimaksud adalah buku tulis/catatan atau harian. Kita bercerita tentang semua masalah yang dialami (stressor) melalaui tulisan. Dan buku yang kita coret-coret itu seolah-olah mendengarkan dengan aktif dan berempati dengan menyediakan ruang atau kertas kosong kepada klien. Sehingga antara klien (kita) dan konselor (buku) terjadi suatu dialog.
Ada tiga tahapan dialog diantaranya yang terjadi. Pertama adalah curahan emosi dan hati klien. Saat itu kita (klien) mengeluarkan segala uneg-unegnya dengan mengoreskan penanya ke lembaran kosong kertas buku itu.
Kita bisa menagis, marah atau bersedih melalui cermin tulisan yang kita buat. Si buku (konselor) akan tetap setia mendampingi kita, mendengarkan segala keluhan kita. Dan bahkan memberikan ruang kosong untuk mita bisa menulis lagi dan lagi. Dia seolah-olah memberikan rasa empatinya kepada kita. Setelah melepaskan dan menggoreskan segala uneg-uneg (stressor) ke dalam ruang kertas yang kosong, maka dibuatnyalah kita menjadi lega dan plong rasanya hati kita. Proses supportive telah terjadi dalam konseling-buku ini.
Kedua proses identifikasi klien terhadap permasalahan yang terjadi. Setelah kita menulis segala uneg-uneg kita. Lambat laun kita akan mengerti apa yang telah terjadi pada diri kita. Akan timbul pertanyaan-pertanya, seperti “mengapa saya begini?” mengapa saya begitu?” yang pada akhirnya akan keluar segala keluhan dan gejala-gejala yang membuat kita dalam kondisi “stress”. Setelah kita mengetahui apa yang telah terjadi dan apa penyebab kita stress, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana memecahkan jalan keluarnya. Buku sebagai konselor bisa memerankan tugasnya untuk memfasilitasi kita mencari jalan keluarnya.
Melalui proses fasilitasi pemecahan masalah ini kita bisa menjabarkan jalan keluarnya dan menulisnya di selembar kertas buku itu. Lagi-lagi kita diberi ruang olehnya untuk menulis. Di saat itu seolah-olah kita berdiskusi dengan buku/konselor guna mencari jalan keluarnya. Berat memang. Tahapan konseling ini seolah-olah memposisikan kita sebagai klien dan buku sebagai seorang konselor. Padahal keduanya melebur menjadi satu keasatuan individu, yakni diri kita. Kita bisa terasa lega, kita bisa mengidentifikasi diri, dan kita bisa mencari jalan keluarnnya. Itulah mengapa proses itu disebut sebagai auto konseling.
Konseling dan Sholat
Disetiap brosur beberapa lembaga yang memiliki program intervensi psikososial biasanya dijelaskan bahwa untuk mengatasi stressor bisa dilakukan dengan pendekatan spiritual, misalnya sholat atau sembahyang. Yang menjadi pertanyaan yang menarik untuk dikaji adalah, bagaimanakah esensi hubungan sholat dan konseling.
Dalam konseling harus terjadi proses dialog antara konselor dan klien. Nah bagaimanakah dalam sholat.Ya, esensinya adalah harus terjadi dialog antara klien (kita sebagai orang yang memiliki masalah) dan konselor (dalam hal ini adalah Allah). Ya dalam sholat-konseling Allah berperan sebagai konselor. Dia mendengar dengan aktif, tidak menggurui atau menasehati dalam proses sholat-konseling. Dia bisa memberikan empati kepada kita dalam proses itu. Seolah-olah Dia ada di dekat kita, berhadapan dengan kita dan memberikan sugesti positive dalam memecahkan permasalahan yang kita hadapi.
Sama seperti dalam konseling dengan buku atau konseling lainnya, tahapan yang dialaui dalam konseling-sholat yakni proses pencurahan emosi, identifikasi dan fasilitasi pemecahan masalah.
Dalam proses pencurah emosi kita bisa lakukan pada sujud terakhir sebelum duduk tahiyad akhir atau setelah salam dan masuk proses berdoa. Di sana kita bisa menangis, mengadu kepada Allah (konselor) perihal permasalahan yang kita hadapi. Maka keluarlah segala uneg-uneg yang kita pendam dan menjadi stressor kita selama ini. Di sana Allah memainkan perannya sebagai konselor. Dia seolah-olah mendengarkan dengan seksama penderitaan kita. Dia berempati dengan memberikan pelukan yang hangat dan bersahabat. Dia seolah-olah ada di dekat kita atau dihadapan kita, dibalik suatu meja konseling yang memberi batas pemisah antara konselor dan klien. Setelah proses curahan emosi itu selesai. Air suci telah keluar dari mata kita yang lentik, maka kita akan merasakan sensasi kelegaan dan kenyamanan.
Dalam sholat kita juga diberikan kesempatan untuk merenung. Dalam merenung kita dapat mengidentifikasi permasalahan yang kita hadapi. Saat itu Kita bisa melakukan perenungan dan identifikasi masalah ini setelah sholat dan memasuki proses berdoa.
Mengapa kita juga diajarkan sholat Istikhoroh di saat kita mengalami kebingungan dan kebuntuan untuk menentukan pilihan. Media inilah merupakan media dialog antara kita dengan Allah. Media kita berkonseling dengan Allah. Kita mengadu, kita mengeluh, kita merenung hingga akhirnya tahu permasalahan yang kita hadapai dan berdoa meminta petunjuknya. Dan Allah seolah-olah memberikan petunjuknya. Padahal Dia hanya memberikan sugesti positif kepada kita sehingga kita mantap dan yakin dalam menentukan pilihan. Pilihan yang sebenarnya telah kita jabarkan dan kita pikirkan akibat baik dan buruk yang ditimbulkannya. Proses seolah-olah kita berdialog dengan Allah inilah mengapa disebut auto konseling.

PANDUAN KONSELOR SEBAYA

• DEFINISI KONSELING
• Apakah konseling kesehatan reproduksi (KR) itu ?
Konseling KR adalah suatu proses tatap muka di mana seorang konselor membantu kliennya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Di dalam proses konseling, harus terjadi:
• Hubungan saling percaya;
• Komunikasi yang terbuka;
• Pemberdayaan klien agar mampu mengambil keputusannya sendiri.
• PERSYARATAN KONSELOR
• Apa saja persyaratan menjadi konselor KR ?
• Berpengalaman sebagai pendidik sebaya.
• Mempunyai minat yang sungguh-sungguh untuk membantu klien.
• Terbuka untuk pendapat orang lain.
• Menghargai dan menghormati klien.
• Peka terhadap perasaan orang dan mampu berempati.
• Dapat dipercaya dan mampu memegang rahasia.
• Pendidikan minimal Setingkat SLTA.
• Pengetahuan dan keterampilan apa yang harus dimiliki seorang konselor KR ?


a. Seorang konselor KR harus memiliki pengetahuan mengenai:
Organ-organ reproduksi dan fungsinya masing-masing.
Proses terjadinya kehamilan.
Bahaya aborsi yang tidak aman.
Jenis-jenis kontrasepsi beserta cara pakai/kerja dan efek sampingnya.
Jenis-jenis penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, dan infeksi saluran reproduksi (ISR).
Hak-hak klien.
Program dan kebijakan pemerintah berkaitan dengan kesehatan reproduksi misalnya aborsi.
Di samping itu, seorang konselor KR perlu menggali informasi mengenai latar belakang kehidupan klien dan alasan klien memerlukan konseling. Konselor juga harus mampu memahami perasaan dan kebutuhan klien.
b. Seorang konselor harus memiliki keterampilan dalam:
Membina suasana yang aman, nyaman dan menimbulkan rasa percaya klien terhadap konselor
Melakukan komunikasi interpersonal, yaitu hubungan timbal balik yang bercirikan:
– Komunikasi dua arah;
– Perhatian pada aspek verbal dan non-verbal;
– Penggunaan pertanyaan untuk menggali informasi, perasaan dan pikiran;
– Sikap mendengar yang efektif.
– Keterangan

Komunikasi duaarah
– Berbeda dengan komunikasi satu arah di mana hanya satu pihak yang berbicara, dalam tempo singkat namun hasilnya kurang memuaskan; komunikasi dua arah memungkinkan kedua belah pihak sama-sama berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan, pendapat dan perasaan. Waktu yang digunakan memang lebih lama, namun hasil yang dicapai memuaskan kedua belah pihak.
– Komunikasi Verbal dan Non-Verbal
– Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi dengan menggunakan kata-kata. Konselor KR hendaknya:
– Menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami kelompok.
– Menghindari istilah yang sulit dimengerti.
– Menghindari kata-kata yang bisa menyinggung perasaan orang lain.
– Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tampil dalam bentuk nada suara, ekspresi wajah-wajah dan gerakan anggota tubuh tertentu. Dalam menyampaikan informasi, Konselor KR perlu mempertahankan kontak mata dengan lawan bicara, menggunakan nada suara yang ramah dan bersahabat.
– Cara Bertanya Ada dua macam cara bertanya, yaitu pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka.

– Pertanyaan Tertutup:
– Adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang singkat. Bisa dijawab dengan “Ya ” dan “Tidak .”
– Biasanya digunakan di awal pembicaraan untuk menggali informasi dasar.
– Tidak memberi kesempatan klien untuk menjelaskan perasaan/ pendapatnya.
contoh:
“Berapa usiamu?”
“Dimana tempat tingga lmu ?”
• Pertanyaan Terbuka:
• Mampu mendorong klien untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran.
• Bisa memancing jawaban yang panjang.
• Memungkinkan klien mengungkapkan diri apa adanya.
• contoh:
– “Apa yang kau ketahui tentang PMS?”
– “Bagaimana rasanya waktu mengalami haid pertama?”

Mendengar efektif Untuk melakukan konseling KR yang baik, mendengar efektif dapat dilakukan dengan cara:
• Jaga kontak mata dengan lawan bicara/klien (sesuaikan dengan budaya setempat).
• Tunjukkan minat mendengar.
• Jangan melakukan kegiatan lain atau memotong pembicaraan.
• Ajukan pertanyaan yang relevan.
• Tunjukkan empati.
• Lakukan refleksi dengan cara mengulang kata-kata klien dengan kata-kata sendiri.
• Mendorong klien untuk terus bicara baik dengan memberikan komentar kecil (misal: mm…, ya…), atau ekspresi wajah tertentu (misalnya menganggukan kepala).

• TEMPAT KONSELING DAN KLIEN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
• Dimana konseling KR bisa dilakukan ?
• Sebenarnya konseling dapat dilakukan dimana saja asalkan syarat-syarat berikut terpenuhi:
• Terjamin “privacy”;
• Nyaman, tidak bising;
• Tenang.

• Siapa saja yang membutuhkan konseling KR ?
• Semua orang, tidak terbatas dengan usia dan jenis kelamin yang ingin bertanya atau mengalami masalah sehubungan kesehatan reproduksinya. Kelompok-kelompok berikut memerlukan perhatian dan bantuan khusus, misalnya :
• Kelompok remaja;
• Klien dengan kehamilan yang tidak diinginkan;
• Orang dengan HIV/AIDS (ODHA);
• Kelompok lansia.

• Apa kiat-kiat untuk melaksanakan konseling pada Kelompok Khusus?

a. Remaja
• Remaja seringkali menghadapi masalah kesehatan reproduksi yang lebih banyak dan beragam dibandingkan klien yang lebih tua. Konseling untuk remaja membutuhkan sikap dan pemahaman yang lebih khusus serta pengetahuan yang lebih banyak. Dengan demikian, menghadapi klien remaja, seorang konselor KR harus:
• Terbuka, membiarkan remaja untuk bertanya tanpa membatasi topik pertanyaan termasuk topik yang tabu untuk dibicarakan
• Fleksibel, membicarakan berbagai isu KR yang ingin diketahui remaja, termasuk isu pubertas dan seks tanpa rasa canggung. Konselor memberikan jawaban yang sederhana dengan kata-kata yang mudah dimengerti
• Dapat dipercaya. Pertahankan kejujuran, bila tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan klien remaja, katakan dengan jujur. Katakan pada klien bahwa anda akan berusaha mencari jawabannya.
Menjaga kerahasiaan. Katakan kepada klien remaja bahwa anda tidak akan menceritakan kunjungan, pembicaraan atau keputusan yang diambil klien kepada orang lain.
Mudah didekati. Jangan panik atau marah, tunjukkan sikap tenang.
Menghargai. Jangan memandang rendah klien remaja.
Memahami. Jangan memberi penilaian kepada klien remaja.
Bersabar. Jangan memaksa klien untuk segera mengambil keputusan karena mungkin saja klien remaja memerlukan waktu yang lama untuk mencapai satu keputusan.
• Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan bila klien dari kelompok remaja.
• Memberikan keterampilan kepada remaja untuk mengatakan “tidak,” bernegosiasi (dengan lawan jenis) dan mengambil keputusan.
• Membantu klien membedakan hubungan sosial dan hubungan seksual.
• Membimbing remaja membuat jangka panjang atau menyiapkan masa depan
• Membimbing remaja dalam memahami ide tentang risiko atau perilaku beresiko
• Menyadari bahwa remaja yang aktif seksual seringkali beresiko terkena PMS dibandingkan klien dewasa.
• Perilaku seksual anak muda biasanya diperkuat atau dihambat oleh orang yang lebih tua
• Remaja biasanya hanya sekali-kali melakukan hubungan seksual
• Remaja mungkin saja berencana tak akan melakukan hubungan seks lagi, tapi kenyataannya mengulangi lagi.
• Para remaja dengan rentang usianya yang sama dapat mempunyai tingkat pengetahuan yang sangat berbeda-beda, ataupun sikap, perilaku dan pengalaman yang berbeda pula.
b. Klien dengan Kehamilan Tidak diinginkan
Menghadapi klien dengan Kehamilan Yang Tidak Diinginkan, Konselor perlu:
Memperhatikan dan antisipasi adanya perasaan-perasaan khusus seperti: tertekan, konflik, bingung
Membantu klien menata dan mengarahkan perasaan yang dialami, agar kemudian mampu mengambil keputusan tanpa rasa sesal
Memiliki informasi rujukan yang luas, misalnya dokter spesialis kandungan, psikolog, ahli agama, tempat penampungan bayi untuk adopsi dan sebagainya.
Menyiapkan diri untuk menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan pasangan atau orang tua klien.

c. Klien dengan HIV/AIDS (ODHA)

Menghadapi klien yang terinfeksi HIV/AIDS, konselor perlu:
Menjaga kerahasiaan secara lebih ketat. Para ODHA umumnya sangat takut bila keadaan mereka diketahui oleh orang lain, takut dikucilkan, mudah terancam harga diri, takut dicerai oleh pasangannya dan sebagainya.
Menunjukkan empati tanpa rasa kasihan. Jika konselor menunjukkan perhatian berlebihan dan cenderung mengasihani, para ODHA justru bisa tersinggung.
Memperhatikan dan mengantisipasi adanya perasaan-perasaan khusus yang dialami para ODHA, seperti: kesedihan mendalam, kemarahan, mengingkari kenyataan, dendam, malu, ingin bunuh diri.
Mengupayakan agar klien yang aktif secara seksual, berbeda menghindari penularan pada orang lain dengan menggunakan kondom.
• d. Klien Lanjut Usia (LANSIA)

Menghadapi klien lanjut usia, konselor perlu menunjukkan:
• Penghargaan. Kelebihan LANSIA adalah banyaknya pengalaman hidup yang perlu dihargai.
Sikap sabar. Umumnya LANSIA senang membicarakan hal-hal yang menyangkut masa lalu, sehingga bisa menimbulkan kebosanan bagi yang mendengar. Keterbatasan lain berupa penurunan fungsi penginderaan seperti pendengaran atau penglihatan.
Sikap hormat. Di Indonesia menghormati orang yang lebih tua dianggap penting, karenanya cara berbicara dan nada suara konselor harus mencerminkan sikap hormat tersebut.
• LANGKAH-LANGKAH KONSELING DAN MENGHADAPI SAAT SULIT
• Persiapan apa yang harus dilakukan oleh konselor KR sebelum pertemuan ?
• Menyiapkan mental dan psikologis dalam arti konselor tidak dalam kondisi terbawa oleh emosi atau masalahnya sendiri;
• Mengatur dan menata tempat konseling sesuai dengan persyaratan;
• Menyiapkan alat bantu untuk mempermudah pemberian penjelasan, bisa berupa brosur, alat peraga, gambar, contoh alat kontrasepsi, leaflet, dsb.

• Apa saja langkah-langkah/tahapan konseling?
• Mengucapkan salam.
• Mempersilahkan klien duduk.
• Menciptakan situasi yang membuat klien merasa nyaman.
• Mengajukan pertanyaan tentang maksud dan tujuan klien mendatangi konselor (pertanyaan bisa berlanjut ke hal-hal yang diperlukan ).
• Berikan informasi setepat dan sejelas mungkin sesuai dengan persoalan yang diajukan, termasuk berbagai alternatif jalan keluar. Hindari memberikan informasi yang tidak dibutuhkan klien.
• Mendorong dan membantu klien untuk menentukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya.
• Bila klien terlihat puas, ucapkan salam penutup. Bila diskusi dengan klien belum selesai dan klien belum mampu mengambil keputusan, tawarkan klien untuk mengatur pertemuan selanjutnya.
Apa saja yang termasuk situasi sulit dalam konseling KR ?

Dalam melakukan konseling, terkadang tidak bisa dihindarkan ditemuinya situasi-situasi yang sulit sehingga membutuhkan pendekatan yang hati-hati, antara lain :
Bila klien pasif dan diam;
Klien menangis;
Klien menanyakan hal yang bersifat pribadi;
Klien minta konselor untuk mengambil keputusan;
Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan;
Konselor tidak menemukan solusi masalah;
Konselor dan klien saling mengenal.
• Bagaimana mengatasi situasi sulit?

Klien yang diam
• Jika klien berdiam diri diawal pertemuan, tataplah klien dan gunakan bahasa tubuh yang memperlihatkan simpati dan minat sambil mengatakan: “saya melihat ada kesulitan pada anda untuk berbicara. Hal ini sering dialami oleh klien yang baru. Saya rasa anda kuatir.” Tunggulah jawaban klien.
• Jika klien diam selama pembicaraan berlangsung, bisa merupakan sesuatu yang wajar karena mungkin klien sedang berpikir atau memutuskan bagaimana mengutarakan perasaan atau pikiran-pikirannya. Berikan waktu pada klien untuk berpikir.
Klien sok pintar
Mengembalikan masalah kepada klien.
Memberikan contoh yang konkret (seperti buku/gambar) & pengertian yang sebenarnya.
Mendorong agar klien bisa memutuskan jalan keluar yang terbaik bagi masalahnya sendiri.

Klien menangis
Jangan membuat asumsi/menduga-duga mengapa klien anda menangis. Tunggulah beberapa saat. Bila berlanjut, katakan bahwa menangis itu tidak apa-apa. Menangis adalah reaksi yang wajar, hal ini membuat klien merasa dibolehkan untuk mengutarakan alasan-alasannya menangis. Tanyakan alasannya dengan hati-hati.
Konselor berusaha untuk tetap tenang.
Apabila klien terus menangis, maka konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menumpahkan emosinya, mengeluarkan beban dan ganjalan-ganjalan lain dalam tangisnya.
Konselor tak dapat menemukan solusi bagi masalah klien
Perlihatkan pengertian dengan cara memberitahu seseorang lain yang dapat membantunya. Menunda pertemuan untuk mencari jawaban yang tepat.
Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan klien
• Katakan dengan jujur dan terbuka bahwa anda tidak tahu jawabannya, tetapi dapat bersama klien mencari jalan keluarnya. Cek pada supervisi atau sumber-sumber referensi
• Konselor melakukan suatu kesalahan
• Perbaiki kesalahan dan minta maaf. Mengakui kesalahan menunjukkan penghargaan pada klien.
• Bersikapjujur.
Konselor dan klien sudah saling mengenal
• Tekankan soal kerahasiaan klien dan privasinya.
• Bila klien menginginkan, aturlah pertemuan dengan konselor lain.
Bersikap profesional (melihat/menganggap klien seperti klien yang lainnya, dan berikan jawabannya yang tepat pada klien.
• Pengetahuan konselor yang terbatas
• A. Jika konselor tidak dapat menjawab pertanyaan:
• Berkata jujur akan ketidaktahuan konselor berkaitan dengan pengetahuan khusus (medis, agama).
• Menunda jawaban untuk dicarikan jawaban kepada ahli.
• Rujuk klien pada ahlinya.

B. Konselor tidak menemukan solusi
• Konselor cukup menerima keluhan masalah klien.
• Mendiskusikan dengan pihak yang mampu menemukan/ membantu memberi solusi.
• Menunda pertemuan untuk mencari jawaban yang tepat.
Klien menanyakan hal yang bersifat pribadi
Usahakan untuk tidak membicarakan pribadi anda.
Bila klien menanyakan hal yang bersifat pribadi, anda tidak perlu menjawab.

Oleh: albertmuna | Maret 30, 2011

BANGUNLAH GENERASIKU

KAU GENERASI PENERUS ZAMAN
KAU GENERASI PEMBANGUN ZAMAN
KAU GENERASI PENCERAH ZAMAN
MAJU TERUS PANTANG MUNDUR
MAJU BERSAMA UNTUK BANGSA
MAJU DAN MAJULAH GENERASIKU
UNTUK BANGSAKU
UNTUK NEGERIKU
UNTUK SEKALIAN YANG ADA DIBUMI
BANGUNLAH DAN BANGKITLAH NEGERIKU TERCINTA INI

Oleh: albertmuna | Maret 23, 2011

Komunikasi dan Konseling

Materi kuliah komunikasi dan konseling semester II

Pengertian Komunikasi
March 29th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
Komunikasi sebagai kata benda (noun), communnication, berarti : (1) pertukaran simbol, pesan-pesan yang sama dan informasi; (2) proses pertukaran antara individu melalui sistem simbol-simbol yang sama; (3) seni untuk mengekspresikan gagasan; dan (4) ilmu pengetahuan tentang pengiriman informasi (Stuart, 1983).
Beberapa pengertian komunikasi menurut beberapa pakar :
a. William Albig : komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang berarti antara individu. (Communication is the prosses of transmitting meoninfull symbols between individuals – buku public opinion).
b. Wilbur Schram : dalam uraiannya “How Communication Work” mengatakan komunikasi berasal dari bahasa latin, yaitu kata communio atau common. Bilamana kita mengadakan komunikasi itu berarti membagikan informasi …. agar si penerima maupun si pengirim sepaham atas suatu pesan tertentu. (communication comes from latin, communio = common when we communication are the sender tuned together for a particular message). Jadi esensi komunikan adalah menemukan dan memadukan si penerima dan si pengirim.
c. Onong Uchyana Effendy : dalam bukunya komunikasi : teori dan praktik mengatakan, komunikasi hakekatnya adalah proses penyimpanan pikiran atau perasaan oleh komunikator kepada komunikan.
d. Bennard Berelson dan Gary A. Steinner (1964:527) mendefinisikan komunikasi : ”communication: the transmission of information, ideas, emotions, skills, etc. by the uses of symbol…” (komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi).
Dari beberapa pengertian diatas ada dua nilai : (1) informasi, berupa lambang, gambaran –> jadi stimulans; (2) persuasy, proses pemindahan, hendak mencapai satu sasaran sedangkan : pesan atau message adalah wujud dan proses pengoperannya.
Secara ontologis kebenaran yang hakiki, komunikasi adalah perhubungan atau proses pemindahan dan pengoperan arti, nilai, pesan melalui media atau lambang-lambang apakah itu bahasa lisan, tulisan ataupun isyarat.
Secara aksiologis, komunikasi adalah proses pemindahan pesan dari komunikator kepada komunikan.
Komunikator (stimulus) —— memberikan rangsangan kepada komunikan.
– Sikap, ide, pemahaman, suatu pesan dapat dimengerti baik komunikator dan komunikan.
Secara epictomologis, komunikasi bertujuan merubah tingkah laku, merubah pola pikir, atau sikap orang lain. Untuk dapat membangun kebersamaan : mencapai ide yang sama demi satu tujuan yang sama.
Paradigma Lasswell (Haroid D. Laswell)
Untuk memahami komunikasi dengan menjawab pertanyaan :
Who says what in which channel yo whom with what effect ?
– Siapa (mengatakan? komunikator, pengirim atau sumber)
– Apa message : pesan, ide, gagasan)
– Dengan saluran mana? (media channel dan sarana)
– Kepada siapa (komunikan, penerima, alamat)
hasil komunikasi)à- Dengan hasil/dampak apa? (effect
Kesimpulan :
Komunikasi adalah : seni penyampaian informasi (peran, message, ide,sikap atau gagasan) dari komunikator untuk merubah serta permohonan yang dikehendaki komunikator.
Jadi proses penyampaian informasi berdaya guna bagi komunikator maupun komunikan.

Tulisan Sejenis :
1. Unsur-Unsur Komunikasi
2. Komponen Komunikasi
3. Proses Komunikasi
4. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
5. Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communication)
6. Komunikasi Terapeutik
Unsur-Unsur Komunikasi
April 5th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
Komunikasi telah didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia, sehingga untuk terjadinya proses komunikasi minimal terdiri dari 3 unsur yaitu : pengirim pesan (komunikator), penerima pesan (komunikan) dan pesan itu sendiri. Awal tahun 1960-an, David K. Berlo membuat formula komunikasi yang lebih sederhana yang dikenal dengan ”SMCR”, yaitu : Source (pengirim), Message (pesan), Channel (saluran-media) dan Receiver (penerima).
– Komunikator
Pengirim pesan (komunikator) adalah manusia berakal budi yang berinisiatif menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif komunikasinya.
Komunikator dapat dilihat dari jumlahnya terdiri dari (a) satu orang; (b) banyak orang dalam pengertian lebih dari satu orang; (c) massa.
– Komunikan
Komunikan (penerima pesan) adalah manusia yang berakal budi, kepada siapa pesan komunikator ditujukan.
Peran antara komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling bergantian. Dilihat dari jumlah komunikator dan komunikan, maka proses komunikasi dapat terjadi 9 kemungkinan.
– Pesan
Pesan bersifat abstrak. Pesan dapat bersifat konkret maka dapat berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa lisan, dan bahasa tulisan.
Pesan bersifat verbal (verbal communication) : (1) oral (komunikasi yang dijalin secara lisan); (2) written (komunikasi yang dijalin secara tulisan).
bidang kerahasiaan)àPesan bersifat non verbal (non verbal communication) : (1) gestural communication (menggunakan sandi-sandi
– Saluran komunikasi & media komunikasi
Saluran komunikasi merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima.
Terdapat dua cara : (1) non mediated communication (face to face), secara langsung; (2) dengan media.
– Efek komunikasi
Efek komunikasi diartikan sebagai pengaruh yang ditimbulkan pesan komunikator dalam diri komunikannya. Terdapat tiga tataran pengaruh dalam diri komunikan : (1) kognitif (seseorang menjadi tahu sesuatu); (2) afektif (sikap seseorang terbentuk) dan (3) konatif (tingkah laku, hal yang membuat seseorang bertindak melakukan sesuatu).
– Umpan balik
Umpan balik dapat dimaknai sebagai jawaban komunikan atas pesan komunikator yang disampaikan kepadanya. Pada komunikasi yang dinamis, komunikator dan komunikan terus-menerus saling bertukar peran.
Komponen Komunikasi
May 3rd, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
Komponen komunikasi hampir sama dengan unsur-unsur komunikasi, yaitu : (1) komponen komunikan; (2) komponen komunikator; (3) komponen pesan; (4) komponen umpan balik.
(1) Komponen komunikan
Seseorang dapat dan akan menerima pesan apabila dalam kondisi sebagai berikut:
– pesan komunikasi benar-benar dimengerti oleh penerima pesan
– pengambilan keputusan dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan
– pengambilan keputusan dilakukan secara sadar untuk kepentingan pribadinya
– mampu menempatkan baik secara mental atau fisik
(2) Komponen komunikator
Komunikasi dapat berjalan efektif bila : adanya kepercayaaan dalam diri komunikator (self credibility) dan kepercayaan kepada komunikator mencerminkan pesan yang diterima komunikan dianggap benar serta sesuai kenyataan dan daya tarik komunikator (source attractiviness).
(3) Komponen pesan
Pesan dapat berupa nasehat, bimbingan, dorongan, informasi dll. Pesan dapat disampaikan lisan maupun non verbal.
(4) Umpan balik
Merupakan respon yang diberikan oleh komunikan terhadap pesan yang diterimanya. Umpan balik dapat digunakan untuk mengukur besarnya informasi yang diterima dibandingkan dengan yang diterima.

Tulisan Sejenis :
1. Unsur-Unsur Komunikasi
2. Proses Komunikasi
3. Pengertian Komunikasi
4. Komunikasi Terapeutik
5. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
6. Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communication)
7. Keterampilan Observasi
8. Macam-Macam Klien dalam Asuhan Kebidanan
Komunikasi Terapeutik
August 14th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
Pengantar
Komunikasi, menciptakan hubungan antara bidan dengan pasien untuk mengenal kebutuhan dan menentukan rencana tindakan.
Kemampuan komunikasi tidak terlepas dari tingkah laku yang melibatkan aktifitas fisik, mental dan dipengaruhi oleh latar belakang sosial, pengalaman, usia, pendidikan dan tujuan.
Pengertian Komunikasi Terapeutik
• Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yg direncanakan secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal.
• Northouse (1998: 12), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan bidan untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
• Stuart G.W. (1998), komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpesonal antara bidan dengan pasien, dalam hubungan ini bidan dan pasien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional pasien.
Tujuan Komunikasi Terapeutik
1. Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan serta pikiran.
2. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
3. Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
Menurut Stuart, tujuan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien : 1) Realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat pada diri sendiri. 2) Identitas diri yang jelas dan integritas diri yang tinggi. 3) Kemampuan membina hubungan interpersonal yang intim, saling tergantung dan mencintai. 4) Peningkatan fungsi dan kemampuan yang memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistis.
Manfaat Komunikasi Terapeutik
1. Mendorong dan menganjurkan kerjasama antara bidan-pasien.
2. Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan bidan.
3. Memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien mengatasi masalah yang dihadapi.
4. Mencegah tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.
Ciri Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik mempunyai ciri sebagai berikut : 1) Terjadi antara bidan dengan pasien, 2) Mempunyai hubungan akrab dan mempunyai tujuan, 3) Berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan, 4) Bidan dengan aktif, mendengarkan dan memberikan respon pada pasien.
Unsur Komunikasi Terapeutik
Adapun komunikasi terapeutik mempunyai unsur sebagai berikut : 1) Ada sumber proses komunikasi; 2) Pesan disampaikan dengan penyandian balik (verbal & non verbal); 3) Ada penerima; 4) Lingkungan saat komunikasi berlangsung.
Prinsip Komunikasi Terapeutik (Menurut Carl Rogers)
1. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus mengenal dirinya sendiri,
2. Komunikasi ditandai dengan sikap menerima, percaya dan menghargai,
3. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus paham, menghayati nilai yang dianut pasien,
4. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus sadar pentingnya kebutuhan pasien,
5. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus menciptakan suasana agar pasien berkembang tanpa rasa takut,
6. Bidan sebagai tenaga kesehatan menciptakan suasana agar pasien punya motivasi mengubah diri,
7. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus menguasai perasaannya sendiri,
8. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan konsisten,
9. Bidan harus paham akan arti empati,
10. Bidan harus jujur dan berkomunikasi secara terbuka,
11. Bidan harus dapat berperan sebagai role model,
12. Mampu mengekspresikan perasaan,
13. Altruisme (panggilan jiwa) untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain,
14. Berpegang pada etika,
15. Tanggung jawab
Teknik Menjalin Hubungan dengan Pasien
Syarat dasar komunikasi menjadi efektif (Stuart, 1998) adalah : 1) Komunikasi ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi dan penerima pesan. 2) Komunikasi dilakukan dengan saling pengertian sebelum memberi saran, informasi dan masukan.
Jenis Komunikasi Terapeutik
Mendengar dengan penuh perhatian
Usaha bidan mengerti pasien dengan cara mendengarkan masalah yang disampaikan pasien. Sikap bidan : pandangan ke pasien, tidak menyilangkan kaki dan tangan, menghindari gerakan yang tidak perlu, tubuh condong ke arah pasien.
Menunjukkan penerimaan
Mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Sikap bidan : mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan, memberikan umpan balik verbal.
Menanyakan pertanyaan yg berkaitan
Tujuan : mendapatkan informasi yang spesifik mengenai masalah yang disampaikan pasien.
Mengulang ucapan pasien dengan kata-kata
Pemberian feedback dilakukan setelah bidan melakukan pengulangan kembali kata kata pasien.
Mengklarifikasi
Tujuan : untuk menyamakan pengertian.
Memfokuskan
Untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan lebih spesifik dan dimengerti.
Menyatakan hasil observasi
Bidan memberikan umpan balik pada pasien dengan menyatakan hasil pengamatannya sehingga pasien dapat menguraikan apakah pesannya diterima atau tidak.
Menawarkan informasi
Memberi tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk pasien.
Diam
Memberikan kesempatan pada bidan untuk mengorganisasikan pikiran dan memproses informasi.
Meringkas
Pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Manfaat : membantu, mengingat topik yang telah dibahas sebelum melanjutkan pembicaraan.
Memberikan penghargaan
Teknik ini tidak digunakan untuk menyatakan hal yang baik dan buruk.
Menawarkan diri
Menyediakan diri Anda tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan; Memberi kesempatan kepada pasien untuk memulai pembicaraan; Memberi kesempatan kepada pasien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Tujuan : 1) Memberi kesempatan pasien untuk mengarahkan seluruh pembicaraan, menafsirkan diskusi, bidan mengikuti apa yg sedang dibicarakan selanjutnya. 2) Menempatkan kejadian dan waktu secara berurutan. 3) Menguraikan kejadian secara teratur akan membantu bidan dan pasien untuk melihat dalam suatu perspektif. 4) Menemukan pola kesukaran interpersonal klien.
Menganjurkan klien untuk menguraikan persepsi
Bidan harus dapat melihat segala sesuatu dari perpektif pasien.
Perenungan
Memberikan kesempatan untuk mengemukakan dan menerima ide serta perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Tahap Interaksi dengan Pasien
Pre interaksi
Adalah masa persiapan sebelum mengevaluasi dan berkomunikasi dengan pasien. Pada masa ini bidan perlu membuat rencana interaksi dengan pasien yaitu : melakukan evaluasi diri, menetapkan tahapan hubungan/ interaksi, merencanakan interaksi.
Perkenalan
Adalah kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu. Hal yang perlu dilakukan bidan adalah : memberi salam; memperkenalkan diri; menanyakan nama pasien; menyepakati pertemuan (kontrak); melengkapi kontrak; menyepakati masalah pasien; mengakhiri perkenalan.
Orientasi
Fase ini dilakukan pada awal setiap pertemuan kedua dst. Tujuan : memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien dan mengevaluasi hasil tindakan yg lalu. Hal yang harus diperhatikan : memberi salam; memvalidasi keadaan psien; mengingatkan kontrak.
Fase kerja
Merupakan inti hubungan bidan-klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan kebidanan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Tujuan tindakan kebidanan : 1) Meningkatkan pengertian dan pengenalan pasien tentang diri, perasaan, pikiran dan perilakunya (tujuan kognitif). 2) Mengembangkan, mempertahankan,dan meningkatkan kemampuan pasien secara mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi (tujuan afektif & psikologi). 3) Melaksanakan terapi/ klinis kebidanan. 4) Melaksanakan pendidikan kesehatan. 5) Melaksanakan kolaborasi. 6) Melaksanakan observasi dan pemantauan.
Fase terminasi
Merupakan akhir dari setiap pertemuan bidan dengan pasien. Klasifikasi terminasi :
1) Terminasi sementara : akhir dari tiap pertemuan bidan dengan pasien; terdiri dari tahap evaluasi hasil, tahap tindak lanjut dan tahap untuk kontrak yang akan datang. 2)
Terminasi akhir : terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit atau bidan selesai praktik. Isi percakapan antara bidan dengan pasien meliputi tahap evaluasi hasil, isi percakapan tindak lanjut dan tahap eksplorasi perasaan.
Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik dapat mengalami hambatan diantaranya : 1) Pemahaman berbeda; 2) Penafsiran berbeda; 3) Komunikasi yang terjadi satu arah; 4) Kepentingan berbeda; 5) Pemberian jaminan yang tidak mungkin; 6) Bicara hal-hal yang pribadi; 7) Menuntut bukti, penjelasan dan tantangan; 8 ) Mengalihkan topik pembicaran; 9) Memberikan kritik mengenai perasaan pasien; 10) Terlalu banyak bicara; 11) Memperlihatkan sifat jemu dan pesimis.

Komunikasi Terapeutik dalam Kebidanan
Komunikasi terapeutik dalam kebidanan meliputi :
Pengkajian
Menentukan kemampuan dalam proses informasi; mengevaluasi data tentang status mental pasien; mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi; mengobservasi kejadian yang terjadi; mengidentifikasi perkembangan pasien; menentukan sikap pasien; mengkaji tingkat kecemasan pasien.
Rencana tujuan
Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri; membantu pasien menerima pengalaman; meningkatkan harga diri pasien; memberi support; tenaga kesehatan dan pasien sepakat untuk berkomunikasi secara terbuka.
Implementasi
Memperkenalkan diri pada pasien; memulai interaksi dengan pasien; membantu pasien mendapatkan gambaran pengalamannya; menganjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan; menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien.
Evaluasi
Pasien dapat mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan memenuhi kebutuhan; komunikasi menjadi lebih jelas, terbuka, dan terfokus pada masalah; membantu menciptakan lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan.
Referensi
Uripni, L. 2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta : EGC.
Suparyanti, R. 2008. Handout Komunikasi Terapeutik.
Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik Teori Dan Praktik. Jakarta : EGC.
Macam-Macam Klien dalam Asuhan Kebidanan
July 28th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
Sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup pelayanan kebidanan, maka bidang konseling kebidanan meliputi:
1. komunikasi pada bayi & balita.
2. komunikasi remaja.
3. komunikasi pada calon orang tua.
4. komunikasi pada ibu hamil.
5. komunikasi pada ibu bersalin.
6. komunikasi pada ibu nifas.
7. komunikasi pada ibu menyusui.
8. komunikasi pada akseptor KB.
9. komunikasi pada masa klimakterium & menopause.
10. komunikasi pada wanita dengan gangguan reproduksi.
Komunikasi pada bayi & balita
Komunikasi pada bayi dimulai sejak kelahiran sejak bayi mulai menangis sampai lancar berbicara. Fase pertumbuhan dan perkembangan komunikasi bayi meliputi : (1) fase prelinguistic; (2) kata pertama; (3) kalimat pertama; (4) kemampuan bicara egosentris dan memasyarakat; (5) perkembangan semantik
Fase Prelinguistic
Suara pertama kali yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangisan. Hal tersebut sebagai reaksi perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Bayi menangis dikarenakan lapar, tidak nyaman oleh karena basah, kesakitan atau minta perhatian. Bunyi refleksi (reflek vocal) juga termasuk dalam fase prelinguistic, yang meliputi : (a) Babling (meraban), fase ini dimulai ketika bayi tahu suaranya, senang mendengar suaranya dan kemudian diulang seperti berbicara sendiri. (b) Echolalia, mengulang gema suara dari suara yang diucapkan orang lain.
Kata Pertama
Bayi merespon terhadap kata-kata familier. Fase ini dimulai usia 4-5 bulan.
Kalimat Pertama
Periode ini dikenal sebagai permulaan berbicara komplit. Usia 2 tahun sudah mulai menyusun kata-kata.
Kemampuan Bicara Egosentris dan Memasyarakat
Kemampuan berbicara egosentris meliputi : (a) Repetitif (pengulangan); (b) Monolog (berbicara satu arah); (c) Monolog kolektif. Menurut Lev Vygotsky, bicara egosentris merupakan petunjuk dan bantuan bagi anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
Perkembangan Semantik
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti kata pada bahasa yang diajarkan. Fase ini mulai memahami arti konkrit dan jenis kata konkrit dan mulai mengetahui arti kata abstrak.
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adala : (1) intelegensi (kecerdasan); (2) jenis kelamin; (3) bilingual (dua bahasa); (4) status tunggal atau kembar; (5) rangsangan/ dorongan orang tua.
Proses komunikasi mengikuti perkembangan psikologis anak. Dalam hal ini, kontak kasih sayang orang tua dan anak, dapat memperkuat kepribadian anak. Bidan dapat memberikan dorongan, bantuan kepada ibu serta pihak lain dalam memberi dukungan rangsangan aktif dalam bahasa dan emosi.
Adapun cara memberikan dukungan rangsangan aktif adalah : (1) memperbaiki model orang tuanya; (2) mendorong kemampuan komunikasi verbal dan non verbal; (3) memberikan anak pengalaman untuk berbicara; (4) mendorong anak untuk mendengar; (5) menggunakan kata yang pasti dan benar.
Prinsip komunikasi efektif pada anak meliputi : (1) kesabaran mendengar; (2) role playing, bermain peran sebagai guru, ayah-ibu dan sebagainnya yang dapat mengekspresikan kemampuan anak dalam hal pikiran, emosi, perasaan dan keinginan mereka secara bebas.
Komunikasi Remaja
Tujuan komunikasi pada remaja adalah memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi.
Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka, mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui oleh remaja. Permasalahan yang dapat diselesaikan dalam bentuk komunikasi terapeutik pada remaja misalnya; perubahan fisik/ biologis sesuai usia, perubahan emosi dan perilaku remaja, kehamilan pada remaja, narkotika, kenakalan remaja dan hambatan dalam belajar.
Adapun komunikasi yang efektif pada remaja, seorang bidan harus memperhatikan : (1) kenyamanan remaja dalam menerima informasi; (2) cara pandang remaja dalam mensikapi pesan yang disampaikan; (3) memfokuskan persoalan yang akan disampaikan; (4) menggunakan bahasa yang mudah dimengerti; (5) menjalin sikap terbuka dan menumbuhkan kepercayaan; (6) menjalin keakraban dengan remaja.
Komunikasi Pada Calon Ibu
Komunikasi terapeutik pada calon ibu perlu memperhatikan dan mempelajari kondisi psikologis wanita. Bidan dapat melakukan komunikasi teraupetik pada calon ibu dengan menitikberatkan pada : (a) memberikan penjelasan tentang fisiologis menstruasi; (b) memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi; (c) memberi bimbingan pra perkawinan; (d) pendidikan kesehatan calon ibu; (e) memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi serta peran yang terjadi.
Komunikasi Pada Ibu Hamil
Kehamilan memberikan perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis bagi ibu hamil. Perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis misalnya; pusing, mual, tidak nafsu makan, BB bertambah dan sebagainya. Sedangkan perubahan psikologis yang menyertai ibu hamil diantaranya; ibu menjadi mudah tersinggung, bangga dan bergairah dengan kehamilannya dan sebagainya.
Adapun pelaksanaan komunikasi bagi ibu hamil, bidan diharapkan : (a) mampu melaksanakan asuhan dan tindakan pemeriksaan, pendidikan kesehatan dan segala bentuk pelayanan kebidanan ibu hamil; (b) dengan adanya komunikasi terapeutik diharapkan dapat meredam permasalahan psikososial yang berdampak negatif bagi kehamilan; (c) membantu ibu sejak pra konsepsi untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya untuk menerima dan memelihara kehamilannya.
Komunikasi Pada Ibu Bersalin
Proses persalinan merupakan hal yang fisiologis yang dialami oleh setiap wanita dan setiap individu berbeda-beda. Perubahan fisiologis pada ibu bersalin diantaranya: terjadi kontraksi uterus, otot-otot pangggul dan jalan lahir mengalami pemekaran, dsb. Sedangkan perubahan psikologis yang sering terjadi pada ibu bersalin adalah rasa cemas pada kondisi bayinya saat lahir, kesakitan saat kontraksi dan nyeri, ketakutan saat melihat darah, dsb.
Pelaksaanaan komunikasi pada saat ini, tidak hanya ditujukan pada ibu yang akan melahirkan, tetapi juga pada pemdamping ibu. Dalam hal ini, dapat suami ataupun keluarga yang laiinya. Komunikasi ini ditujukan untuk memberikan dukungan/ motivasi moral baik untuk ibu maupun keluarga. Komunikasi ibu bersalin difokuskan pada teknik saat bersalin dengan menerapkan asuhan sayang ibu, penyampaian pesan diberikan secara jelas dan memberikan rasa nyaman.
Komunikasi Pada Ibu Nifas
Ibu setelah melahirkan akan mengalami fase ini yaitu fase ibu nifas. Ibu nifas juga mengalami perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Oleh karena itu, diperlukan juga komunikasi pada saat nifas. Perubahan fisiologis pada ibu nifas meliputi: proses pengembalian fungsi rahim, keluarnya lochea, dsb. Sedangkan perubahan psikologis meliputi: perasaan bangga setelah melewati proses persalinan, bahagia bayi telah lahir sesuai dengan harapan, kondisi-kondisi yang membuat ibu sedih saat nifas (keadaan bayi tidak sesuai harapan, perceraian, dsb).
Pelaksanaan komunikasi yang dilakukan bidan pada ibu nifas harus memperhatikan kestabilan emosi ibu, arah pembicaraan terfokus pada penerimaan kelahiran bayi, penyampaian informasi jelas dan mudah dimengerti oleh ibu dan keluarga, dsb.
Komunikasi Pada Ibu Menyusui
Perubahan fisiologis yang dialami pada ibu menyusui diantaranya: pembesaran kelenjar susu oleh karena hormon, pengeluaran ASI. Perubahan psikologis ibu menyusui meliputi: kecemasan ibu dalam ketidaksanggupan dalam perawatan bayi, pemberian ASI tidak maksimal, ketakutan dalam hal body image, cemas akan kondosi bayinya. Komunikasi bidan pada saat menyusui sangat diperlukan ibu untuk pemberian motivasi dengan peranan ibu dalam kesuksesan pemberian dan perawatan bayinya.
Komunikasi Pada Klien KB
Tidak semua akseptor KB mengalami kenyamanan dalam menggunakan alat kontrasepsi. Ada juga yang mengalami perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis setelah penggunaan alat kontrasepsi. Perubahan fisiologis yang sering terjadi adalah akibat dari efek samping penggunaan alat kontrasepsi tersebut. Misalnya pusing, BB bertambah, timbul flek-flek di wajah, gangguan menstruasi, keputihan, gangguan libido, dll. Adapun perubahan psikologis yang dialami adalah kecemasan atau ketakutan akan keluhan-keluhan yang terjadi, kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi.
Pelaksanaan komunikasi bagi akseptor KB yaitu terfokus pada KIE efek samping kontrasepsi dan cara mengatasinya, cara kerja dan penggunaan alat kontrasepsi.
Komunikasi Pada Wanita Menopause dan Klimakterium
Pada fase ini wanita juga mengalami perubahan fisiologis dan perubahan psikologis. Perubahan fisiologis yang dapat terjadi misalnya hot flash, keringat dingin, haid tidak teratur, dispareuni, jantung berdebar-debar, dll. Adapun perubahan yang bersifat psikologis adalah kecemasan terhadap keluhan-keluhan yang dialami.
Pelaksanaan komunikasi pada wanita menopause dan klimakterium ini adalah (a) pemberian penjelasan tentang pengertian, tanda menopause; (b) deteksi dini terhadap gangguan yang terjadi pada masa ini; (c) pemberian informasi tentang pelayanan kesehatan yang dapat dikunjungi; (d) membantu klien dalam pengambilan keputusan; (e) pemakaian alat bantu dalam emberian KIE; (f) melakukan komunikasi dengan pendekatan biologis, psikologis dan sosial budaya.
Prinsip komunikasi pada masa menopause adalah (1) fungsi kognitif terdiri dari: kemampuan belajar (learning), kemampuan pemahaman (comprehension), kinerja (performance), pemecahan masalah (problem solving), daya ingat (memory), motivasi, pengambilan keputusan, kebijaksanaan. (2) fungsi afektif, fenomena kejiwaan yang dihayati secara subyektif sebagai sesuatu yang menimbulkan kesenangan atau kesedihan. (3) fungsi konatif (psikomotor), fungsi psikis yang melaksanakan tindakan dari apa yang diolah melalui proses berpikir dan perasaan ataupun keduanya.
Komunikasi Pada Wanita dengan Gangguan Sistem Reproduksi
Wanita dengan gangguan sistem reproduksi akan mengalami gangguan atau perubahan yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Perubahan fisiologis yang terjadi seperti keputihan, gangguan haid, penyakit menular seksual, dll. Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis diantaranya ibu cemas, takut akan masalah-masalah yang terjadi dan ketidaksiapan dalam menerima kenyataan.
Pelaksanaan komunikasi pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi adalah penjelasan kemungkinan penyebab gangguan yang dialaminya, deteksi dini terhadap kelainan sehubungan dengan gangguan reproduksi, pemberian informasi tentang layanan kesehatan, membantu dalam pengambilan keputusan dan pemberian support mental.
Referensi
Proses dan Praktik KIP/K dalam Pelayanan Kebidanan
July 28th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
Pengertian KIP/K
Komunikasi Interpersonal adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.
Konseling kebidanan adalah pertolongan dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi interaksi yang mendalam, dan usaha bersama bidan dengan pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan, ataupun perubahan tingkah laku atau sikap dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan.
Konselor adalah orang yang memberi nasehat, memberi arahan kepada orang lain (klien) untuk memecahkan masalahnya. Sedangkan konseli adalah orang yang mencari (membutuhkan) advis atau nasehat.
Tujuan Konseling meliputi mencapai kesehatan psikologi yang positif; memecahkan masalah meningkatkan efektifitas pribadi individu; membantu perubahan pada diri individu yang bersangkutan; membantu mengambil keputusan secara tepat dan cermat; adanya perubahan prilaku dari yang tidak menguntungkan menjadi menguntungkan.
Hal-hal yang harus diperhatikan bidan sebagai konselor adalah (1) membentuk kesiapan konseling, (2) memperoleh informasi, (3) evaluasi psikodiagnostik.
(1) Kesiapan Konseling
Faktor yang mempengaruhi kesiapan konseling adalah motivasi memperoleh bantuan, pengetahuan klien tentang konseling, kecakapan intelektual, tingkat tilikan terhadap masalah, dan harapan terhadap peran konselor.
Hambatan dalam persiapan konseling: (1) penolakan, (2) situasi fisik, (3) pengalaman konseling yang tidak menyenangkan, (4) pemahaman konseling kurang, (5) pendekatan kurang, (6) iklim penerimaan pada konseling kurang.
Penyiapan klien
(a) Orientasi pra konseling; (b) teknik survey terhadap masalah klien;(c) memberikan informasi pada klien; (d) pembicaraan dengan berbagai topik; (e) menghubungi sumber-sumber referal.
(2) Memperoleh Riwayat Kasus
Riwayat kasus merupakan kumpulan informasi ssistematis tentang kehidupan sekarang dan masa lalu. Riwayat kasus kebidanan, biasanya tercatat dalam rekam medis.
(3) Psikodiagnostik
Psikodiagnostik meliputi pernyataan masalah klien, perkiraan sebsb-sebab kesulitan; kemungkinan teknik konseling; perkiraan hasil konseling.
Langkah-Langkah Konseling
Langkah-langkah konseling terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
(a) Pendahuluan
Merupakan kegiatan untuk menciptakan kontak, melengkapi data klien untuk merumuskan penyebab masalah dan menentukan jalan keluar.
(b) Bagian Inti/ Pokok
Bagian ini mencakup kegiatan mencari jalan keluar, memilih salah satu jalan keluar dan melaksanakan jalankeluar tersebut.
(c) Bagian Akhir
Merupakan kegaitan akhir dari konseling yang meliputi penyompulan dari seluruh aspek kegiatan. Langkah ini merupakan langkah penutupan dari pertemuan dan penetapan untuk pertemuan berikutnya.
Tujuan/ harapan dari pelayanan konseling yang telah dilakukan adalah :
(a) Peningkatan kemampuan klien dalam upaya mengenal masalah, merumuskan alternatif pemecahan masalah, dan manilai hasil tindakan secara tepat dan cermat. (b) Klien memeiliki pengalaman dalam menghadapi masalah dan pelaksanaan pemecahan masalah kesehatan. (c) Adanya kemandirian dalam pemecahan masalah.
Perbedaan Konseling dengan Nasehat
Nasehat
Memberitahukan klien apa yang sebaiknya klien lakukan, menghakimi perilakunya di masa lalu dan sekarang.
Konseling
Memberikan fakta-fakta sehingga klien dapat membuat keputusan, membuat klien bertanya dan mendiskusikan masalah pribadinya.
Proses Konseling
Hubungan antara konselor dan klien adalah inti proses konseling. Proses konseling meliputi :
1) Pembinaan dan pemantapan hubungan baik (rapport)
“En rapport” mempunyai makna saling memahami dan mengenal tujuan bersama. Tujuannya adalah menjembatani hubungan antara konselor dengan klien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Beberapa teknik untuk menguasai rapport adalah memberikan salam; memperkenalkan diri; topik pembicaraan yangs sesuai; menciptakan suasanan yang aman dan nyaman; sikap hangat, realisasi tujuan bersama, menjamin kerahasiaan, kesadaran terhadap hakekat klien.
2) Pengumpulan dan pemberian informasi
Pengumpulan dan pemberian informasi merupakan tugas dari konselor. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: mendengar keluhan klien, mengamati komunikasi non verbal klien, bertanya riwayat kesehatan, latar belakang keluarga, masalah, memberikan penjelasan masalah yang dihadapinya.
3) Perencanaan, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
Apabila data telah lengkap, maka bidan membantu klien untuk memecahkan masalah atau membuat perencanaan dalam pemecahan masalahnya. Tahapan dalam memecahkan masalah adalah: menjajagi masalah (menetapkan masalah yang dihadapi klien); memahami masalah (mempertegas masalah yang sesungguhnya); membatasi masalah (menetapkan batas-batas masalah); menjabarkan alternatif pemecahan masalah; mengevaluasi alternatif (menilai setiap alternatif dg analisis SWOT); memilih alternatif terbaik; menerapkan alternatif dan menindaklanjuti pertemuan.
Sumber :
Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan, Yogyakarta: Fitramaya.

Konseling
May 10th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments
A. Definisi Konseling
Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saefudin, Abdul Bari : 2002).
Proses pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.
Proses melalui satu orang membantu orang lain dengan komunikasi, dalam kondisi saling pengertian bertujuan untuk membangun hubungan, orang yang mendapat konseling dapat mengekspresikan pikiran& perasaannya dengan cara tertentu sesuai dengan situasi, melalui pengalaman baru, mamandang kesulitan objektif sehingga dapat menghadapi masalah dengan tidak terlalu cemas dan tegang.( SCA.C STEERING COOMUTE, 1996).
Jadi konseling kebidanan adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam dan usaha bersama antara konselor (bidan) dengan konseli (klien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku/ sikap dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan”.
B. Tujuan Konseling
Tujuan konseling adalah :
1. Pemecahan masalah, meningkatkan efektifitasindividu dalam pengambilan keputusan secara tepat.
2. Pemenuhan kebutuhan, menghilangkan perasaan yang menekan/ mengganggu.
3. Perubahan sikap dan tingkah laku.
C. Langkah Konseling
Ada 3 langkah pokok konseling yang harus dilaksanakan yaitu : (a) Pendahuluan, menciptakan kontak mengumpulkan data klien untuk mencari tahu penyebabnya; (b) Bagian inti/ pokok , mencari jalan keluar dan menentukan jalan keluar yang harus dipilih; (c) Bagian akhir, penyimpulan dari seluruh aspek kegiatan dan merupakan tahap penutupan untuk pertemuan berikutnya.
D. Prinsip Dasar Konseling
Kemampuan menolong orang lain digambarkan dalam sejumlah keterampilan yang digunakan seseorang sesuai dengan profesinya yang meliputi (HOPSAN, 1978) : (1) Pengajaran; (2) nasehat dan bimbingan ; (3) pengambilan tindakan langsung; (4) pengelolaan; (5) konseling.
E. Fungsi Konseling Kebidanan
Fungsi konseling adalah :
1. Pencegahan : mencegah timbulnya masalah kesehatan.
2. Penyesuaian : membantu klien mengalami perubahan biologis, psikologis, kultural dan lingkungan .
3. Perbaikan : perbaikan terjadi bila ada penyimpangan perilaku klien
4. Pengembangan : meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan.
F. Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Konseling
Hal yang harus diperhatikan dalam konseling adalah :
1. Iklim psikologis, suasana percakapan : Iklim psikologis, tindakan, perilaku, sikap dari orang lain yang mempunyai dampak terhadap diri kita. Contoh : bidan otoriter kepada klien -> feed back negatif.
2. Sikap Konselor (Bidan) menurut “Rogers”, yaitu :
a. Acceptance(Menerima) : Konselor menunjukkan sikap menerima, sehingga konseli merasa tidak ditolak, diacuhkan, didikte, tapi melainkan konseli merasa bahwa ia diterima sebagai dirinya sendiri. Terima klien dengan sikap terbuka dan apa adanya. Konselor memperhatikan tanpa pamrih, tanpa menguasai klien. Tulus dan ikhlas. Konselor harus menghargai konseli, apapun yang dikatakan konseli. Beri kesempatan pada klien untuk mengemukakan keluhan-keluhannya.
b. Sikap tidak menilai
c. Sikap percaya terhadap konseli
3. Alam pikiran dari konseli ?dilihat dari dalam diri konseli sendiri
4. Situasi konseling, persamaan persepsi sampai mendapat pengertian.
G. Teknik Konseling

Teknik konseling ada 3 yaitu :
1. Pendekatan authoritatian atau directive, pusat dari keberhasilan konseling adalah dari konselor.
2. Pendekatan non-directive atau conselei centred, konseli diberikan kesempatan untuk memimpin proses konseling dan memecahkan masalah sendiri.
3. Pendekatan edetic, konselor menggunakan cara yang baik sesuai dengan masalah konseli.
H. Proses Konseling
Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan yaitu :
1. Pembinaan hubungan baik (rapport) : Pembinaan hubungan baik dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu dijaga seterusnya dengan :a. Memberi salam pada awal setiap pertemuan.b. Memperkenalkan diri
c. Menciptakan suasana nyaman dan aman.
d. Memberikan perhatian penuh pada klien (SOLER).S :Face your clients squarely (menghadap klien) & smile/ nod at clients (senyum/ mengganggukkan kepala).
O :Open and Non Judgemental Facial Expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai).
L : Lean Towards Client (tubuh condong kearah klien).
E : Eye Contact in a culturally- Acceptable Manner (kontak mata/ tatap mata sesuia dengan cara yang diterima budaya setempat).
R : Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat).
e. Bersabar
f. Tidak memotong pembicaraan klien
2. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perencanaanSetelah mendapatkan dan memberikan cukup informasi sesuai dengan masalah dan kondisi klien, konselor membantu klien memecahkan masalah yang dihadapi atau membuat perencanaan untuk mengatasi masalah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah (1) fisik, (2) emosional, (3) rasional, (4) praktikal, (5) interpesonal, (6) struktural.
3. Menindaklanjuti pertemuan : Menindaklanjuti pertemuan konseling dengan membuat rangkuman, merencanakan pertemuan selanjutnya/ merujuk klien.
I. Faktor Penghambat Konseling
Faktor penghambat dalam konseling antara lain :
1. Faktor individualKeterikatan budaya merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari : (a) faktor fisik atau kepekaan panca indera, usia dan seks; (b) sudut pandang terhadap nilai-nilai; (c) faktor sosial pada sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial; (d) bahasa.
2. Faktor yang berkaitan dengan interaksi, (a) tujuan dan harapan terhadap komunikasi; (b) sikap terhadap interaksi; (c) pembawaan diri terhadap orang lain; (d) sejarah hubungan.
3. Faktor situasional
4. Kompetensi dalam melakukan percakapan : Komunikasi dikatakan efektif bila ada sikap perilaku kompeten dari kedua belah pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah : (a) kegagalan informasi penting; (b) perpindahan topik bicara; (c) tidak lancar; (d) salah pengertian.
J. Hasil Pelayanan Konseling Kebidanan
Harapan bidan setelah dilaksanakan konseling adalah kemandirian klien dalam :
1. Peningkatan kemampuan klien dalam mengenali masalah, merumuskan pemecahan masalah, menilai hasil tindakan dengan tepat.
2. Klien mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah kesehatan.
3. Klien merasa percaya diri dalam menghadapi masalah.
4. Munculnya kemandirian dalam pemecahan masalah kesehatan.

Sumber :
Febrina, 2008. Pengertian KIP/K (Komunikasi Inter Personal/ Konseling), dipos 8 Februari : 19.41 WIB.
Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan, Yogyakarta: Fitramaya.
Uripni, Sujianto, Indrawati, 2003. Komunikasi Kebidanan, Jakarta: EGC.

Keterampilan Observasi
A. Keterampilan Observasi
Hal yang perlu kita observasi adalah tingkah laku verbal, non verbal dan kesenjangan antara tingkah laku verbal dan non verbal. Kepekaan dalam observasi merupakan hal yang paling mendasar dalam membina komunikasi efektif.

 

Oleh: albertmuna | Maret 23, 2011

Info sehat

YAYASAN MITRA KARYA PERSADA
(YAMIKAP)

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
KESEHATAN KARYA PERSADA MUNA

IZIN OPERASIONAL DIKNAS KAB. MUNA
NO. 421. 5 / 2816
NPSN : 40404276/ NSS : 342200201003

JL. Gambas Sidodadi No. 79 Raha
Telp/Fax : 0403 – 2523318

PROGRAM KEAHLIAN :
SMK Kesehatan Karya Persada Muna Membuka Program Keahlian :
1. Farmasi
2. Analis Kesehatan / Kimia
3. Keperawatan

PERSYARATAN PENDAFTARAN :
Syarat Pendaftaran :
1. Lulusan SLTP atau sederajat
2. Mengisi Formulir pendaftaran dengan melampirkan
Foto copy ijazah dan NEM yang telah dilegalisir
Sebanyak 2 rangkap / Keterangan Ikut Ujian
3. Pas foto terbaru ukuran : 2×3, 3×4, dan 4×6
Masing-masing 3 Lembar

TEMPAT & WAKTU PENDAFTARAN :
SMKS Kesehatan Karya Persada Jl. Gambas No. 79
(Lr. Kantor Catatan Sipil Kab. Muna ) Sidodadi
Waktu Pendaftaran :
Bulan April s/d Juli 2011
Pada Jam Kerja (08.00 – 13.00 Wita)
Sekolah Menengah Kejuruan bidang keahlian Farmasi, yang melihat situasi dan kondisi yang ada menangkap peluang kebutuhan akan tenaga pelaksana di bidang farmasi, termasuk sektor pelayanan (apotek, rumah sakit), juga SMKS Kesehatan Karya PersadaTelah Memiliki sarana Laboratorium Farmasi danKeperawatan serta Laboratorium Komputer dan Fasilitas Internet

INFORMASI PENDAFTARAN
Selengkapnya dapat menghubungi sekretariat pendaftaran SMK Kesehatan Karya Persada
Tahun Ini Penamatan Angkatan I

SPP/ Semester Rp. 600.000,- ( 2 X Bayar )
SDP Rp. 1.000.000,- ( 3X Bayar )

Moto : Kreatif, Trampil Dan Mandiri

TAMAT DAPAT KETERAMPILAN
DAN LEBIH GAMPANG MASUK DUNIA KERJA

PENDAFTARAN GRATIS !!!!!

Kategori